| Mari Kita “Melihat” Alam Ghaib |
|
|
|
| Ditulis Oleh: Nina Iqbal | |
| Tuesday, 29 September 2009 | |
Para ilmuwan
semakin yakin, detail paling halus dalam kosmos memang diliputi kekaburan.
Seolah ada tirai pembatas antara pengetahuan manusia dengan hakikat semesta.
Ilmu pengetahuan semakin terbukti tak sanggup menembus dunia di balik batas
itu.Bukan apa-apa, memang begitulah cara alam memperlihatkan dirinya pada manusia …! Dalam konsep ilmu pengetahuan modern dewasa ini, alam semesta dengan segala
isinya tersusun dari materi dan energi. Materi (benda) tersusun pula atas partikel-partikel
halus yang lazim disebut atom. Sedangkan atom, dapat pula kita bagi atas sebuah
inti atom bersama sejumlah elektron pada jarak yang relatif jauh. Sebetulnya istilah-istilah atom, proton, dan sebagainya, semua hanyalah
“model”. Artinya nama-nama tersebut dikaitkan dengan suatu gejala tertentu,
sedemikian rupa sehingga dengan model itu para ilmuwan akan lebih mudah
bekerja. Sebab itu “model” atom bisa bermacam-macam. Dalam sejarah fisika atom,
dikenal model-model atom mulai dari Dalton, Thomson, Rutherford, Niels Bohr,
dan sebagainya. Jadi pernahkah para ilmuwan melihat elektron? Gelombang? Cahaya? Tidak
pernah! Ia bahkan tidak akan pernah tahu apa persisnya semua itu. Thomson misalnya: sekalipun dikatakan sebagai penemu elektron, ia
sebetulnya tidak pernah tahu seperti apakah elektron itu. Yang dia lakukan
hanyalah membuat eksperimen. Lalu ia perhatikan gejala-gejala atau sifat-sifat
hasil eksperimennya. Dari sana disusunlah konsep … dan ternyata konsepnya itu
bisa menerangkan gejala tersebut. Hanya itu koq. Lantas, apabila konsep
tersebut ternyata gagal, yang salah bukan gejalanya … tapi konsep itulah yang
perlu disempurnakan! Namun, baiklah, mari kita coba-coba melakukan eksperimen khayal. Istilahnya
“Gedunken Experiment” alias eksperimen dalam pikiran. Maksud kita
hendak melihat elektron. Okelah kita anggap kita mempunyai semua peralatan yang dibutuhkan. Kita
perkirakan ada sebuah mikroskop elektron yang sangat luar biasa. Daya uraiannya
kita anggap akan sanggup menembus “kabut atomik”. Ditunjang lagi dengan daya
pembesaran mencapai 100 bilyun kali! Memang dengan perbesaran begitu, secara teoritis
dapat diramalkan elektron akan terlihat oleh mata. Akan tetapi, apa yang terjadi? Ternyata tak semudah apa yang dibayangkan.
Masalahnya begini. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya kita bisa melihat
karena pertolongan cahaya visual (kasat mata). Cahaya ini mempunyai panjang
gelombang antara 3800 angstrom sampai 7500 angstrom; dimana 1
angstrom = 10-8 cm. Padahal kita tahu elektron jauh lebih kecil dari itu. Diameternya sepertiga
milyar milimeter. Tentu akibatnya malah elektron tersebut akan “tertutupi”. Ibarat mau melihat bola,
lalu bola itu kita tutup dengan sehelai kain hitam yang panjang. Mana mungkin
akan terlihat! Apa akal? Terpaksa kita cari cahaya lain. Tapi panjang gelombangnya mesti
yang lebih pendek dari diameter (garis tengah) elektron. Kalau tidak … sama saja bohong!
Namun resikonya, kita terpaksa melihat bukan dengan mata. Sebab mata hanya mampu bekerja
pada rentang gelombang optis (cahaya tampak). Baiklah kita gunakan saja alat detektor supercanggih, berfungsi laksana
“mata”. Ternyata kesulitan tetap saja tak teratasi. Kalau kita pakai sinar-X,
panjang gelombangnya masih sedikit besar ketimbang elektron. Yah … akhirnya
elektron tak akan kelihatan juga. Terpaksa kita ganti dengan sinar lain. Akhirnya satu-satunya pilihan cuma
sinar gamma. Sinar itu dipancarkan oleh radium hingga sering disebut sinar
radium. Sinar ini memiliki frekuensi yang sangat tinggi. Itu berarti energinya
pun sangat tinggi. Namun, apa yang terjadi sewaktu pas alat detektor kita corongkan ke lensa
supermikroskop? Bentuk apakah yang terlihat jauh di kedalaman sana? Tidak! Kita tak menemukan apa-apa! Lho … koq bisa? Bukankah tadi elektron masih ada?
Kenapa tiba-tiba bisa lenyap tanpa jejak begitu saja? Apa yang telah terjadi?
Ya … sewaktu sinar gamma datang menghampiri elektron, ternyata elektron malah
tidak sanggup mematulkan sinar itu kembali ke mata detektor. Ia tak sanggup
menahan hantaman sinar gamma berenergi sangat tinggi itu. Elektron malah
terhambur, terpental entah ke mana. Kecepatan gerak elektron jadi luar biasa.
Tentu saja … detektor tak akan sanggup mencari “di mana dia”! sia … sia …
putuslah asa … kecewa! Tapi, apa mau dikata …! BATAS PENGETAHUAN Mustahil bisa
ditentukan kedudukannya dalam ruang-waktu. Menurut asas ini,
mustahil mempertautkan pada indera manusia semua sifat diskriptif sehari-hari
dalam dunia “ghaib” subatomik. Bahkan sampai waktu kapan pun! Memang, kini
dikenal elektron punya deskriptif tertentu, seperti spin, Percobaan hanya
mungkin dilakukan dalam jumlah yang banyak. Semisal satu gram unsur yang
terdiri dari berbilyun-bilyun atom. Akibatnya hasil perhitungan hanyalah
“kira-kira”. Pendekatan statistik, sebab ia hanya merupakan kesimpulan
rata-rata dari sejumlah besar angka-angka. Jika ilmu
pengetahuan coba-coba melakukan eksperimen pada suatu satuan dasar, seperti
halnya menyelidiki satu atom, apalagi satu elektron. Maka ia akan berhadapan
dengan suatu kemustahilan yang maha mutlak! Banyak para ilmuwan
merasa azas ketidakpastian Heisenberg adalah sifat hakiki alam semesta. Mereka
yakin, detail paling halus dalam kosmos sering diliputi kekaburan. Ia tak Seolah Heisenberg
berkata, “ |
|
| Terakhir Diperbaharui ( Tuesday, 29 September 2009 ) |
| Berikut > |
|---|
| Modul Kuliah |
| Akuntansi |
| Latihan Dasar Akuntansi |
| Manajemen |
| Ekonomi |
| Forum Diskusi |
| Belajar Berbisnis |