Sering merasa bingung bagaimana menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari pewawancara kerja? Pelajari dulu perkiraan
pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan si pewawancara di bawah ini.
1. Apa
kekurangan Anda?
Sebelum bertemu pewawancara, pikirkan baik-baik jawaban dari pertanyaan ini.
Ini pertanyaan yang cukup menjebak. Karena ini dilihat apakah Anda mengenal
baik diri Anda sendiri, dan apakah akan ada usaha untuk memperbaiki diri. Disarankan untuk Anda
mencari tahu sisi positif dari apa yang akan Anda katakan. Misalnya, “Saya
sangat memperhatikan detail dan di beberapa industri, terlalu mendetail bisa
membutuhkan waktu lama sehingga kurang diperlukan. Namun di posisi
akunting yang saya lamar ini, saya rasa saya bisa bekerja dengan baik dan
nyaman.”
2. Mengapa Anda berhenti dari pekerjaan sebelumnya?
Sebisa mungkin Anda tidak mengucapkan hal-hal negatif tentang tempat bekerja
sebelumnya. Usahakan untuk bersikap netral dan menjawab secukupnya. Misalnya,
“Tempat bekerja saya sebelumnya bukan tempat yang tepat untuk kepribadian saya
yang senang berkreasi bebas. Namun dari sana saya mempelajari bahwa dalam
sebuah organisasi memiliki sebuah tipe karakteristik tertentu seperti layaknya
manusia. Sekarang saya mengetahui bahwa saya akan bekerja lebih baik di tempat
yang memerlukan pemikir-pemikir independen dan memiliki metode bekerja yang
berbeda dari tempat saya sebelum ini.”
3. Mengapa Anda ingin bekerja di sini? Nah,
untuk menjawab pertanyaan ini, dibutuhkan kemauan untuk meneliti dan mencari
tahu tentang tempat yang dituju. Cari tahu sedikit tentang latar belakang
perusahaan tersebut. Misal, “Saya ingin menjadi bagian dari perusahaan global
yang dalam satu tahun saja bisa menginvestasikan 1,4 triliun rupiah hanya untuk
riset dan pengembangan proses industri yang ramah lingkungan.”
4. Ceritakan tentang diri Anda.
Inilah kesempatan Anda untuk unjuk gigi, tapi bukan untuk menceritakan sejarah
hidup Anda. Mulai dengan karakter Anda, penghargaan-penghargaan yang pernah
Anda terima, pendidikan, atau pekerjaan yang relevan dengan posisi yang
dituju. Jangan terlalu banyak mendalam ke informasi personal kecuali informasi
tersebut berhubungan dengan pekerjaan yang dilamar. Misalnya, “Saya tipe yang
senang berkreativitas. Saya sudah menjadi sales manager selama 5 tahun dan
menggunakan kreativitas saya untuk menciptakan insentif-insentif unik untuk
membuat para sales di bawah saya termotivasi. Karena ide-ide tersebut, tim
sales saya mendapatkan banyak penghargaan dari perusahaan.”
5. Ceritakan tentang bos terburuk yang pernah Anda temui.
Meski ini terlihat sebagai "sarana" baik untuk bercurhat tentang si
mantan bos yang menyebalkan itu, namun Anda harus menahan godaan itu. Alih-alih
cobalah bersikap bijaksana, misalnya, “Meski tak ada mantan atasan saya yang
menyebalkan, namun ada yang mengajarkan saya lebih banyak tentang bermacam hal
ketimbang yang lainnya.”
6. Apa gol yang ingin Anda tuju?
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang baik untuk dijawab sesuai dengan
pernyataan tentang tujuan hidup yang tertulis di surat lamaran Anda. Usahakan
mendetail, namun tidak berlebihan. Misalnya, “Saya ingin bekerja sebagai teknik
sipil di sebuah perusahaan yang berkonsentrasi pada pengembangan ritel. Secara
ideal, saya ingin bekerja di perusahaan yang baru berkembang, seperti tempat
ini, agar saya bisa bisa mempelajari segala hal yang bisa saya pelajari sedini
mungkin mengenai banyak hal di perusahaan yang sedang berkembang.” Namun ada
pula tempat-tempat tertentu yang mengharapkan jawaban jujur dari calon
pekerjanya, misalnya dengan mengatakan bahwa Anda mencari penghasilan yang
lebih baik. Sebaiknya perhatikan pula
karakter si pewawancara.
Lima mahasiswa aktivis dengan membawa bantuan
datang ke sebuah desa miskin. Mereka membagi-bagikan pakaian bekas, sarung,
baju, pakaian wanita yang semuanya pernah dipakai itu diterima dengan senang
hati oleh masyarakat desa itu.Setelah rombongan mahasiswa itu hendak pulang,
bukan hanya lambaian tangan yang mencerminkan rasa terima kasih masyarakat desa
itu, bahkan pandangan mata mereka ketika hendak melepas tamu-tamu yang baik
hati itu menggambarkan rasa syukur yang sangat dalam. Seorang mahasiswa dalam
mobil itu menangis seakan-akan tak kuasa menahan rasa haru.