| Gaji Yang Tak Jelas |
|
|
|
| Ditulis Oleh: Administrator | |
| Friday, 22 May 2009 | |
|
Hari itu Sulaiman
bin Ja’far Al-Ja’fari bersama-sama Imam Ridha, keluar untuk suatu keperluan.
Menjelang malam, Imam mengajaknya datang dan menginap di rumah. Setibanya disana,
Imam melihat pegawai-pegawainya tengah sibuk membatik. Nampak pula diantara
mereka seorang asing yang tidak dikenal.
“Siapa dia?” tanya
Imam kepada para pegawainya. Kemarahan nampak di wajah Imam. Dia pergi mengambil cambuk untuk mengajar
kecerobohan pegawai-pegawainya. Sulaiman berkata, “Imam, kenapa Anda harus
marah?” “Telah berkali-kali kukatakan kepada mereka agar jangan mengupah seseorang
selagi imbalan gajinya belum ditentukan. Pertama-tama tentukan dahulu upahnya,
baru kemudian dia bekerja. Kalau gaji seseorang telah ditentukan sebelumnya,
kalaupun akan ditambah dengan uang ekstra tidaklah apa-apa; dan dia, pada
gilirannya, akan sangat berterima kasih atas itu. Disamping itu hubungan kalian akan
bertambah erat, dan dia akan sangat menyukai kalian.” “Seandainya kalian
tetap hanya memberikan upah sekadar upah yang telah ditentukan sebelumnya, dia
pun masih akan rela menerimanya. Ini berbeda dengan seseorang yang bekerja tanpa
mengetahui gaji yang akan diterimanya. Karena seberapa banyak yang kalian
berikan kepadanya, dia tetap tak akan percaya bahwa itu adalah hadiah dari
kalian, bahkan dia menduga bahwa kalian telah memberi upah lebih sedikit dari
yang seharusnya dia terima.” *Bikhar Al-Anwar, jilid XII, hal 31 |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|
| Modul Kuliah |
| Akuntansi |
| Latihan Dasar Akuntansi |
| Manajemen |
| Ekonomi |
| Forum Diskusi |
| Belajar Berbisnis |