| Ketika Rasulullah Saw Dikisas |
|
|
|
| Ditulis Oleh: Administrator | |
| Sunday, 19 April 2009 | |
Hari itu, kaum
Muhajirin dan Anshar sedang berkumpul di Masjid Rasulullah saw. Selesai shalat
dua rakaat, beliau naik ke mimbar dan berkata, “Sesungguhnya saya ini adalah
Nabi-mu, pemberi nasihat dan da’i yang menyeru manusia ke jalan Tuhan dengan
izin-Nya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan bapak yang pengasih. Siapa
yang merasa teraniaya olehku diantara kamu semua, hendaklah dia bangkit berdiri
sekarang juga … untuk melakukan kisas kepadaku, sebelum ia melakukannya nanti
di hari Kiamat”.Sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan pada ketiga kalinya barulah berdiri seorang laki-laki bernama ‘Ukasyah Ibnu Muhsin. Ia berdiri di hadapan Rasul, sambil berkata, “Ibuku dan Ayahku menjadi
tebusanmu ya Rasul Allah. Kalau tidaklah karena engkau telah berkali-kali
menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku akan berani
tampil untuk memperkenankannya sesuai dengan permintaanmu. Dulu, aku pernah
bersamamu di medan perang Badar sehingga untaku berdampingan sekali dengan
untamu, maka aku pun turun dari atas untaku dan aku menghampiri engkau, lantas
aku pun mencium paha engkau. Kemudian engkau mengangkat cambuk memukul untamu
supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul lambung-sampingku.
Saya tidak tahu apakah itu engkau sengaja atau tidak ya Rasul Allah, ataukah
barangkali maksudmu dengan itu hendak melecut untamu sendiri?” Rasulullah menjawab, “Maha suci Allah ya ‘Ukasyah, bahwa Rasulullah akan
bermaksud memukul engkau dengan sengaja”. Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah, “Supaya Fatimah
memberikan cambukku kepadaku”, kata beliau. Bilal segera keluar Masjid dengan tangannya diletakkan di atas kepalanya
keheranan sambil berkata sendirian, “Inilah Rasulullah memberikan kesempatan
mengambil kisas terhadap dirinya!” Ia ketuk pintu rumah Fatimah. “Siapa di luar?” “Saya … saya ingin mengambil cambuk Rasulullah”, jawab Bilal. “Apa yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?” tanya Fatimah. “Ya Fatimah! Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang untuk mengambil
kisas terhadap dirinya”, kata Bilal, menegaskan. “Siapakah gerangan yang sampai hati mengisas Rasulullah?” tukas Fatimah
keheranan. Bilal pun mengambil cambuk dan membawanya masuk ke dalam Masjid, lalu ia berikan
cambuk itu kepada Rasulullah saw kemudian menyerahkannya kepada ‘Ukasyah. Tatkala hal itu dilihat oleh Abu Bakar dan Umar, keduanya berkata kepada
‘Ukasyah, “Hai ‘Ukasyah! Kami sekarang berada di hadapanmu, pukul kisaslah kami
berdua dan jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah saw!” Rasulullah menyela, “Duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui
kedudukan kamu berdua!” Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Thalib sambil berkata, “Hai ‘Ukasyah! Saya
ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi. Aku tidak sampai hati melihat kalau
engkau akan mengambil kesempatan kisas memukul Rasulullah. Inilah punggungku,
maka kisaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tangan engkau
sendiri!” Nabi menukas pula, “Allah telah tahu kedudukan dan niatmu, wahai Ali!” Kemudian tampil pula kedua kakak-beradik, Hasan dan Husein. “Hai ‘Ukasyah!
Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung
Rasulullah, dan kisaslah terhadap diri kami dan itu berarti sama juga dengan
mengisas Rasulullah sendiri!” Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu, “Duduklah kalian berdua,
wahai penyejuk mataku!” Akhirnya Nabi berkata, “Hai ‘Ukasyah! Pukullah aku jika engkau berhasrat
mengambil kisas!” “Ya Rasul Allah! Sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang
tidak lekat kain di badanku”, kata ‘Ukasyah. Lantas tanpa bicara Rasulullah segera membuka bajunya, maka berteriaklah
kaum Muslimin yang hadir sambil menangis. Maka tatkala
‘Ukasyah melihat putih tubuhnya Rasulullah, ia segera mendekap tubuh Nabi dan
mencium punggung beliau sepuas-puasnya sambil berkata, “Tebusanku rohku ya
Rasulullah. Siapakah yang sampai hatinya untuk mengambil kesempatan mengisas
engkau ya Rasul Allah? Saya sengaja berbuat demikian hanyalah karena berharap
agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya
Allah dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka”. Akhirnya berkatalah
Nabi, “Ketahuilah wahai para sahabat! Barang siapa yang ingin melihat penduduk
surga, maka melihatlah kepada pribadi laki-laki ini!” Lantas bangkit kaum
Muslimin beramai-ramai mencium ‘Ukasyah diantara kedua matanya, dan mereka
berkata, “Berbahagialah engkau yang telah mencapai derajat yang tinggi dan
menjadi teman Rasulullah di surga kelak!” Ya Allah! Demi kemuliaan
dan kebesaran engkau mudahkan jugalah kami mendapatkan syafaatnya Rasulullah
saw di kampung akhirat yang abadi nanti! (riwayat Ibnu
Abbas) |
|
| Terakhir Diperbaharui ( Sunday, 19 April 2009 ) |
| Berikut > |
|---|
| Modul Kuliah |
| Akuntansi |
| Latihan Dasar Akuntansi |
| Manajemen |
| Ekonomi |
| Forum Diskusi |
| Belajar Berbisnis |