Islam Masuk ke Nusantara ketika Rasulullah SAW masih Hidup
Ditulis Oleh: Administrator
Saturday, 21 March 2009
Islam
masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India,
di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai
Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih
menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga
lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi. Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis
asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam?
Orientalis
ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari
bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan
mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.
Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad
SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina,
Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.
Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka
Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam
di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National
University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia
Tenggara.
Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima
masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan
utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan
beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan
zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal
ini.
Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki
beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu,
banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir
masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda
ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering
dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM,
para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para
pedagang dari Cina.
Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar
sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan
adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan
Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607
Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi,
“kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah
berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.
Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji
Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno
berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi.
Dalam periode
ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di
Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di
Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan
pada masa Kerajaan Sriwijaya.
Temuan G. R Tibbets
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan
Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang
dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang
dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman
pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri
Arab dengan Nusantara saat itu.
“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat
persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad
kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di
selatan adalah Arab-Nusantara-China.
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat
tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah
menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah
berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera
sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam
kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.
Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan
asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan
lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari
perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an
dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren,
umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).
Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat
sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok
bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini
sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang
tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa
temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam
di Princetown University di Amerika.
Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara
Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat
Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil
ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan
Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus
masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan
digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.
Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh
kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal
Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia,
China, dan sebagainya.
Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur
Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga
telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga
bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.
Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota
itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman
kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi!
Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah
awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam
kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh
Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim
di Barus sudah ada pada era itu.
Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO)
Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi
Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12
Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku
bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau,
Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.
Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah
ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah
makmur.
Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab,
Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik
dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha
Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka
banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau
pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja,
adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat
yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang
akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai.
Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga
menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam
asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.
Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut
laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam
bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili
sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua,
His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon
Book, 1966, hal. 159).
Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan
seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah
ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di
abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I.,
1963, hal. 39).
Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara
pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai
berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun
kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun
lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar
kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka
dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.
Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah
perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak
Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera
sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.
Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an,
karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin
Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh
buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum
Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di
Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang
sendiri oleh Khalif Utsman.
Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi
semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman
Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai
museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia
Tengah.
Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka
pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan
al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di
Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.
Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat
pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246
mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman
bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian
sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia
Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari
Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan
kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin,
Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).
Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan
ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau
penghapal al-Qur’an.
Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya
tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang
berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan
waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi
dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan
kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama
yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi
perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu
terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah
kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha
Sriwijaya.
Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan
kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua
setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2,5 tahun, maka
yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua
syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di
atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.
Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula
membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama
para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..
Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin
bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan
Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa
sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang
kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal
dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan
cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga
telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.
“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka
para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat
dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu, ” ujar Mansyur yakin.
Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai
orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan
bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun
651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan
Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian,
duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai
Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya
berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).
Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina
sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang
abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi
wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.
Gujarat
Sekadar Tempat Singgah
Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh
banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini
sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal
sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang
yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu
dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh
sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah
tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan
nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.
Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari
Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis
sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke
Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus
berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau
juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah
ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar
Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.
Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah
dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India
menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh,
baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal
yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang
dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal
dengan sebutan Serambi Makkah.
Salah satu kebodohan buat masyarakat Indonesia. Mungkin teman2 pernah
liat Iklan di TV swasta kita, iklan Ki Joko Bodo dengan kata ajaibnya
bisa merubah nasib seseorang, Iklan Deddy Cobuzier yang bisa meramal
tanggal lahir dan nama seseorang dan Iklan Mama Laurent. Yang intinya semua iklan
tersebut memberitahukan bahwa nasib seseorang ada ditangan mereka…… Apakah ini
bukan namanya membodohi masyarakat ??. Saya juga tidak habis pikir dengan
ketiga orang tersebut ? apa yang mereka cari ? Saya pribadi berpikir mereka
hanya mau meraup Rupiah dari masyarakat Indonesia yang masih bodoh dan percaya
dengan hal-hal yang Instan dan tidak masuk akal. Sebagaimana kita ketahui bahwa
allah tidak akan merubah nasib hambanya kalau bukan karena dirinya sendiri yang
ingin merubahnya. BUKAN KARENA ORANG LAIN.