| Tulisan VI : Pengorganisasian |
|
|
|
| Ditulis Oleh: Administrator | |
| Monday, 23 February 2009 | |
|
1. PENGORGANISASIAN DAN STRUKTUR ORGANISASI Suatu
organisasi perlu untuk mengalokasikan dan menugaskan kegiatan diantara para
anggotanya agar tujuan dari organisasi tersebut dapat tercapai dengan efisien.
Oleh karena itu, didalam bab ini akan diungkapkan mengenai bermacam-macam aspek
proses pengorganisasian yang tentu saja berkenaan dengan pencapaian tujuan
organisasi. Kata Organisasi mempunyai dua pengertian umum. Pengertian
pertama menandakan suatu lembaga atau kelompok fungsional, seperti organisasi perusahaan, rumah sakit, perwakilan
pemerintah atau suatu perkumpulan olah raga. Pengertian kedua berkenaan dengan
proses pengorganisasian, sebagai suatu cara dalam mana kegiatan organisasi
dialokasikan dan ditugaskan diantara para anggotanya agar tujuan organisasinya
dapat tercapai dengan efisien. Pengorganisasian (Organizing) merupakan proses penyusunan
struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya-sumber
daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya. Dua aspek utama
proses penyusunan struktur organisasi adalah departementalisasi, yaitu merupakan pengelompokan kegiatan-kegiatan
kerja suatu organisasi agar kegiatan-kegiatan yang sejenis yang saling
berhubungan dapat dikerjakan bersama. Hal ini akan tercermin pada struktur
formal suatu organisasi, dan tampak atau ditunjukkan oleh suatu bagan
organisasi. Pembagian kerja adalah
pemerincian tugas pekerjaan agar setiap individu dalam organisasi bertanggung
jawab untuk dan melaksanakan sekumpulan kegiatan yang terbatas. Kedua aspek ini
merupakan dasar proses pengorganisasian suatu organisasi untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif. 1.1 PENGERTIAN PENGORGANISASIAN
Istilah pengorganisasian mempunyai bermacam–macam
pengertian. Istilah tersebut dapat digunakan untuk menujukkan hal-hal berikut
ini : 1. Cara manajemen merancang struktur
formal untuk penggunaan yang paling efektif sumberdaya-sumberdaya keuangan,
fisik, bahan baku, dan tenaga kerja organisasi. 2. Hubungan-hubungan antara fungsi,
jabatan, tugas, dan para karyawan. 3. Cara dalam mana para manejer membagi
lebih lanjut tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam departemen mereka dan
mendelegasikan wewenang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas tersebut. Dari tiga hal diatas dapat disimpulkan bahwa Pengorganisasian
merupakan suatu proses untuk merancang
struktur formal, mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau
pekerjaan diantara para anggota organisasi, agar tujuan organisasi dapat
dicapai dengan efisien. 1.2 STRUKTUR ORGANISASI
Struktur organisasi (desain organisasi) dapat didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal dengan mana
organisasi dikelola. Struktur organisasi menunjukan kerangka dan susunan
perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian
atau posisi-posisi, atau pun orang-orang yang menunjukan kedudukan, tugas
wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam organisasi. Struktur ini
mengandung unsur-unsur spesialis kerja, standarlisasi, koordinasi, sentralisasi
atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran (ukuran) satuan
kerja. Ada pun faktor-faktor
utama yang menentuka perancangan struktur organisasi adalah sebagai berikut : 1. Strategi organisasi untuk
mencapai tujuannya. Strategi menjelaskan bagaimana aliran wewenang dan saluran
komunikasi dapat disusun diantara para pimpinan dan bawahan. 2. Teknologi yang digunakan.
Perbedaan teknologi yang digunakan untuk memproduksi barang- barang atau jasa
akan membedakan struktur organisasi. Contoh : Perusahaan mobil yang digunakan
teknologi industri masal akan memerlukan tingkat standarisasi dan spelisasi yang
lebih tinggi dibandingkan perusahaan pakain jadi yang mengutamakan perubahan
mode. 3. Angota (pegawai/karyawan) dan
orang-orang yang terlibat dalam organisasi. Kemampuan dan cara berpikir para
anggota, serta kebutuhan mereka untuk bekerja sama harus diperhatikan dalam
merancang struktur organisasi. Kebutuhan menejer dalam pembuatan keputusan juga
akan mempengaruhi saluran komunikasi, wewenang dan hubungan diantara satuan
kerja pada rancangan struktur organisasi. Contoh : pelanggan,
supplier dan sebagiannya perlu dipertimbangkan dalam penyusunan struktur. 4. Ukuran organisasi. Besarnya
organisasi secara keseluruhan maupun satuan kerjanya yang sangat mempengaruhi
struktur organisasi.Semakin besar ukuran organisasi, struktur organisasi akan
semakin kompleks dan harus dipilih struktur yang tepat. Unsur – unsur struktur organisasi terdiri dari : 1. Spesialisasi kegiatan 2. Standarisasi kegiatan 3. Koordinasi kegiatan 4. Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan 5. Ukuran satuan kerja 1.3 KELOMPOK-KELOMPOK
KERJA FORMAL, ORGANISASI Organisasi formal
1. Pembagian kerja 2. Manejer dan bawahan atau rantai perintah 3. Tipe pekerjaan yang dilaksanakan 4. Pengelompokkan segmen pekerjaan 5. Tingkat menajemen Organisasi
mempunyai tiga tipe utama kelompok-kelompok kerja formal, yaitu: 1. Kesatuan tugas khusus (task forces) 2. Panitia : - Tetap (standing committess) disebut juga
panitia struktural - Tidak tetap (ad hoc) 3. Dewan (boards) dan komisi Kesatuan kerja khusus atau tim proyek dibentuk untuk
menangani suatu masaalah atau tugas khusus. Kesatuan ini keberadaannya hanya
sampai tugas yang disampaikan atau masalah dipecahkan, kesatuan tugas biasanya
dibentuk untuk menangani masalah dan tugas yang kompleks dan melibatkan
beberapa satuan kerja organisasi. Kelompok tugas biasanya meliputi para wakil
(para pembuatan keputusan) dari satuan organisasi ditambah para ahli yang
secara teknis yang diperlukan untuk menangani masalah atau tugas. Panitia tetap (standing committess ) dan panitia Ad
hoc. Panitia tetap (dikenal sebagai panitia sruktural) adalah bagian tetap
dari struktur suatu organisasi yang dibentuk untuk menangani tugas yang
terus-menerus ada dalam organisasi seperti panitia anggaran, panitia
pengembangan, produk baru, panitia pembelian, dsb. Panitia ini biasanya membuat
rekomendasi formal kepada menejer tingkat atas atau mempunyai wewenang untuk
membuat keputusan sendiri bagi suatu kegiatan organisasi yang terbatas. Panitia
Ad Hoc mempunyai fungsi yang serupa dengan panitia tetap, hanya tidak bersifat
tetap. Tujuan
dibentuknya panitia manajemen adalah untuk mengkoordinasikan dan mempertukarkan
informasi, memberi saran manajemen, puncak atau bahkan membuat keputusan
sendiri. Kegunaan Panitia
Bila beberapa orang dengan latar belakang dan
pengalaman berbeda digabung bersama, berarti ada sejumlah pengetahuan yang lebih
besar dan biasanya yang banyak pendekatan yang akan diidentifikasikan dan
pemecahan masalah dibanding bila ditangani seseorang. Berbagai kegunaan yang ditimbulkan panitia adalah : 1. Keputusan dengan kualitas yang
lebih baik 2. Meningkatan penerimaan 3. Memperbaiki koordinasi 4. Tempat latihan bagi manejer 5. Penyebaran kekuasaan 6. Menghindarkan konsekuensi yang tidak menyenangkan Kerugian
Panitia
Adapun kerugian-kerugian yang dapat
ditimbulkan panitia adalah : 1. Pemborosan waktu dan uang 2. Dominasi individu 3. Adanya persetujuan dan kompromi
terlebih dahulu 4. Kurangnya tanggung jawab ORGANISASI INFORMAL
Salah satu bagian penting organisasi adalah
pengelompokkan informal dan hubungan-hubungan pribadi yang dapat lebih
berpengaruh dibanding dengan hubungan formal seperti yang ditunjukkan bagan
organisasi. Argiyris mengemukakan
empat bidang utama dimana bidang organisasi formal dan informal berbeda : 1. Hubungan-hubungan antar pribadi. Hubungan-hubungan
antar pribadi didalam organisasi formal digambarkan jelas, sedangkan dalam organisasi
informal tergantung pada kebutuhan-kebutuhan mereka. 2. Kepemimpinan. Para pemimpin dirancang dan
ditentukan dalam formal serta muncul dan dipilih dalam informal. 3. Pengendalian perilaku. Organisasi formal
mengendalikan perilaku karyawan melalui penghargaan dan hukuman, sedangkan
kelompok informal mengendalikan para anggota dengan pemenuhan kebutuhan. 4. Ketergantungan. Karena kapasitas pemimpin
formal terletak pada penghargaan dan hukuman, bawahan-bawahan lebih tergantung
dari pada para anggota suatu kelompok informal. Walaupun ada perbedaan
tersebut adalah suatu kesalahan bila menganggap kelompok formal dan informal
sebagai dua kesatuan organisasi yang terpisah. Keduanya hidup bersama dan tidak
dapat dipisahkan setiap organisasi formal selalu mempunyai organisasi informal
dan setiap organisasi informal brkembang dalam berbagai tinkatan formal. Fungsi – fungsi
yang dilaksanakan kelompok informal sbb: 1. Menetapkan, memperkuatkan dan meneruskan norma-norma dan
nilai sosial budaya penting para anggota kelompok. 2. Memberikan dukungan terhadap tujuan organisasi dan bantuan
terhadap tugas manajer. 3. Menstimulasi komunikasi efektif dan dinamik sebagai alat
komunikasi tambahan 4. Memberikan kepuasan dan status
sosial kepada anggota yang tidak dapat diberikan organisasi formal. Masalah yang diciptakan. Kelompok informal
ini walaupun tidak ditetapkan secara formal oleh organisasi, dapat ditimbulkan
berbagai masaalah bagi manejer. Masalah tersebut antara lain adalah bahwa kelompok informal menciptakan koflik,
mendorong penolakan terhadap perubahan, menghidupkan dan menyebarkan desas-desus,
dan mengembangkan keseragaman diantara anggota termasuk pembatasan pelaksanaan
kegiatan. Sikap manajemen terhadap organisasi informal. Kelompok
informal tidak dapat dihindarkan kehadirannya, dan manajemen akan melakukan tindakan sia-sia dan bila mencoba
menetang dan menghapuskannya hal ini akan menimbulkan konflik terus- menerus.
Sikap manajemen yang baik adalah memahami, mencari penyesuaian, dengan
melakukan kerja sama yang saling menguntungkan kelompok informal. Manajemen
organisasi formal lebih memusatkan perhatian untuk memelihara kesatuan untuk
pencapaian tujuan organisasi, dan organisasi informal memberikan kepaduan,
kerjasama dan kepuasan sosial bagi para anggota organisasi. 2. DEPARTEMENTALISASI Depertemenlisasi
adalah : proses penentuan cara bagaimana kegiatan yang dikelompokkan. Beberapa
bentuk departemenlisasi sbb : 1. Fungsi 2. Produk atau jasa 3. Wilayah 4. Langganan 5. Proses atau peralatan 6. Waktu 7. Pelayanan 8. Alpa - Numeral 9. Proyek dan matriks 2.1. DEPARTEMENTALISASI
FUNGSIONAL Departementalisasi
fungsional mengelompokkan fungsi-fungsi yang sama atau kegiatan-kegiatan
sejenis untuk membentuk suatu satuan organisasi. Semua individu-individu yang
melaksanakan fungsi yang sama dikelompokkan bersama, seperti seluruh personalia
penjualan, akuntansi, programmer komputer, dan sebagainya. Organisasi
fungsional ini barangkali merupakan bentuk yang paling umum dan bentuk dasar
departementalisasi. Gambar 6.1 menunjukkan departementalisasi fungsional yang
digunakan pda tingkatan manajemen puncak dalam membagi empat fungsi utama
bisnis–produksi, pemasaran, keuangan dan personalia (kepegawaian).
Gambar6.1. Bagan Organisasi Fungsional pada tingkatan manajemen puncak
suatu perusahaan manufakturing. Kebaikan pendekatan fungsional. Kebaikan utama
pendekatan fungsional adalah bahwa pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan
fungsi-fungsi utama, menciptakan efisiensi melalui spesialisasi, memusatkan
keahlian organisasi, dan memungkinkan pengawasan manajemen puncak lebih ketat
terhadap fungsi-fungsi. Pendekatan ini cocok untuk lingkungan yang stabil serta
memerlukan koordinasi internal yang minimum, membutuhkan lebih sedikit
ketrampilan-ketrampilan dasar pribadi, dan meminimumkan duplikasi personalia
dan peralatan dari segi biaya. Kelemahan struktur fungsional. Bagaimanapun juga,
pendekatan fungsional mempunyai berbagai kelemahan. Struktur fungsional dapat
menciptakan konflik antar fungsi-fungsi, menyebabkan kemacetan-kemacetan
pelaksanaan tugas yang berurutan, memberikan tanggapan lebih lambat terhadap
perubahan, hanya memusatkan pada kepentingan tugas-tugasnya, dan menyebabkan
para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inovatif. Koordinasi antara dan di antara fungsi-fungsi menjadi
kompleks dan lebih sulit sejalan dengan pertumbuhan organisasi. Tanggung jawab
atas keseluruhan pelaksanaan kegiatan berhenti hanya sampai puncak. 2.2. DEPARTEMENTALISASI
DIVISIONAL Banyak
perusahaan besar, dengan banyak jenis produk, diorganisasikan menurut struktur
organisasi divisional. Bila departementalisasi perusahaan menjadi terlalu
komplek dan tidak praktis bagi struktur fungsional, manajer perlu membentuk
divisi-divisi semi otonomi, dimana setiap divisi merancang, memproduksi dan
memasarkan produknya sendiri. Organisasi
divisional dapat mengikuti pembagian divisi-divisi atas dasar produk, wilayah
(geografis), langganan, dan proses atau peralatan. Struktur
organisasi divisional atas dasar produk. Setiap departemen bertanggung jawab atas suatu produk atau sekumpulan
produk yang berhubungan (garis produk). Divisionalisasi produk adalah pola
logik yang dapat diikuti bila jenis-jenis produk mempunyai teknologi pemrosesan
dan metoda-metoda pemasaran yang sangat berbeda satu dengan yang lain dalam
organisasi (lihat gambar 6.2). Dalam gambar terlihat bahwa perusahaan
diorganisasikan atas dasar produk pada tingkat manajer umum, dan pada tingkat
selanjutnya menggunakan pendekatan fungsional.
Gambar 6.2. Bagan Organisasi
Divisional suatu perusahaan manufakturing atas dasar produk. Struktur
Organisasi divisional atas dasar wilayah. Departementalisasi wilayah, kadang-kadang juga disebut departementalisasi
daerah, regional atau geografis, adalah pengelompokan kegiatan-kegiatan menurut
tempat dimana operasi berlokasi atau dimana satuan-satuan organisasi
menjalankan usahanya. Faktor-faktor lokasi yang terutama menjadi pertimbangan
adalah sumber bahan mentah, pasar dan tenaga kerja. Perusahaan yang menjual
produknya diberbagai wilayah yang tersebar luas, dapat membaginya menjadi
kelompok-kelompok wilayah dengan manajer tersendiri (area manager) untuk setiap
wilayah. Perusahaan-perusahaan jasa, perbankan dan peruahaan-perusahaan bukan
manufakturing lainnya lazin diorganisasikan atas dasar wilayah, dengan membuka
kantor-kantor cabang. Sebagai contoh departementalisasi atas dasar wilayah
dalam suatu perusahaan manufacturing dapat dilihat pada gambar 6.3.
Gambar 6.3. Bagan organisasi
Divisional suatu perusahaan manufakturing atas dasar wilayah. Struktur
organisasi divisional atas dasar langganan. Departementalisasi langganan adalah pengelompokan kegiatan-kegiatan yang
dipusatkan pada penggunaan produk atau jasa tertentu. Pembentukan divisi ata
dasar langganan ini terutama digunakan dalam pengelompokan kegiatan-kegiatan
penjualan atau pelayanan, dan diperlukan bila suatu divisi menjual sebagian
besar atau semua produknya kepada suatu kelas langganan tertentu. Sebagai
contoh, perusahaan elektronika mungkin mempunyai divisi-divisi yang terpisah
untuk langganan militer, industri dan konsumen. Sebagai suatu pedoman umum,
perusahaan-perusahaan manufacturing dengan garis produk yang sangat beraneka
ragam cenderung diorganisasikan atas dasar langganan atau produk (lihat gambar 6.4)
Gambar 6.4. Bagan Organisasi suatu
perusahaan manufacturing atas dasar langganan. Struktur
organisasi divisional atas dasar proses atau peralatan. Departementalisasi proses atau peralatan adalah pengelompokan kegiatan-kegiatan
atas dasar proses atau peralatan produksi. Hal ini sering dijumpai dalam
departemen produksi. Kegiatan-kegiatan suatu pabrik menufacturing dapat
dikelompokkan menjadi departemen-departemen pemboran, penggilingan,
penggergajian, perakitan dan penyelesaian terakhir. Tipe departementalisasi ini
mempunyai kegunaan bila mesin-mesin atau peralatan-peralatan yang digunakan
memerlukan ketrampilan-ketrampilan pengoperasian khusus atau akan lebih
ekonomis bila kapasitas digunakan sepenuhnya. Pendekatan proses atau peralatan
terutama ditentukan atas dasar pertimbangan ekonomis. Tidak seperti departemen fungsional, suatu divisi
menyerupai perusahaan yang terpisah. Kepala divisi terutama memusatkan
perhatiannya pada operasi divisinya, bertanggung jawab atas laba atau rugi, dan
bahkan mungkin bersaing dengan satuan-satuan lainnya dalam perusahaan yang
sama. Tetapi suatu divisi bukan merupakan kesatuan yang bebas seperti halnya
perusahaan yang terpisah. Dalam hal ini, seorang manajer divisi tidak dapat
membuat keputusan-keputusan sebebas pemilik perusahaan terpisah, karena dia
masih harus melaporkan kegiatannya kepada direktur pusat. Sebagai pedoman umum,
wewenang kepada divisi terbatas bila keputusan-keputusannya akan mempengaruhi
kegiatan divisi-divisi lain. Kebaikan
struktur divisional. Organisasi atas dasar
divisi mempunyai beberapa kebaikan. Kerena semua kegiatan, keterampilan dan
keahlian yang diperlukan untuk memproduksi dan memasarkan produk dikelompokkan
menjadi satu di bawah seorang kepala, keseluruhan pekerjaan dapat lebih mudah
dikoordinasikan dan prestasi kerja yang tinggi terpelihara. Disamping itu, baik
kualitas dan kecepatan pembuatan keputusan meningkat, karena
keputusan-keputusan yang dibuat pada tingkat divisi dekat dengan kancah
kegiatan. Kebaikan-kebaikan struktur organisasi divisional dapat diperinci
sebagai berikut: 1. Meletakkan koordinasi dan wewenang yang diperlukan pada
tingkat yang sesuai bagi pemberian tanggapan yang cept. 2. Menempatkan pengembangan dan
implementasi strategi dekat dengan lingkungan divisi yang khas. 3. Merumuskan tanggung jawab secara
jelas dan memusatkan perhatian pada pertanggung jawaban atas prestasi kerja,
yang biasanya diukur dengan laba atau rugi divisi. 4. Membebaskan para kepala eksekutif
untuk pembuatan keputusan strategik lebih luas dan memungkinkan konsentrasi
penuh pada tugas-tugas. 5. Cocok untuk lingkungan yang cepat
berubah. 6. Mempertahankan spesialisasi fungsional dalam setiap divisi. 7. Tempat latihan yang baik bagi
para manajer strategik. Kelemahan
struktur divisional. Bagaimanapun juga,
struktur divisional mempunyai berbagai kelemahan. Kepentingan divisi mungkin ditempatkan di atas tujuan dan kebutuhan
organisasi keseluruhan. Setiap divisi mempunyai para anggota staf dan spesialis
sendiri, sehingga akan meningkatkan biaya administrasi dan terjadi duplikasi
ketrampilan. Kelemahan-kelemahan struktur divisional secara lebih terperinci adalah: 1. Menyebabkan berkembangnya persaingan “dysfunctional”
potensial antar sumber daya – sumber daya perusahaan dan konflik antara
tugas-tugas dan prioritas-prioritas. 2. Masalah seberapa besar delagasi wewenang yang diberikan
kepada manajer-manajer divisi. 3. Masalah kebijaksanaan dalam alokasi sumber daya dan
distribusi biaya-biaya overhead perusahaan. 4. Dapat menimbulkan tidak
konsistennya kebijaksanaan antara divisi-divisi. 5. Masalah duplikasi sumber daya dan
peralatan yang tidak perlu. 2.3. ORGANISASI PROYEK
DAN MATRIKS Bentuk
organisasi proyek dan matriks adalah tipe departementalisasi campuran (hybrid
design). Kedua struktur organisasi ini tersusun dari satu atau lebih tipe-tipe
departementalisasi lainnya. Struktur proyek dan matriks bermaksud untuk
mengkombinasikan kebaikan-kebaikan kedua tipe disain fungsional dan divisional
dengan menghindari kekurangan-kekurangannya. Pendekatan tradisional terhadap organisasi
yang telah dibahas sebelumnya tidak memberikan kemudahan dan fleksibilitas
untuk menangani kegiatan-kegiatan yang komplek dan melibatkan keahlian dari
berbagai bidang fungsional organisasi. Kedua bentuk departementalisasi proyek
dan matriks mencakup cara-cara penggabungan personalia organisasi dengan
berbagai spesialisasi untuk menyelesaikan suatu tugas. Kebaikan organisasi matriks. Berbagai kebaikan
organisasi matriks dapat diperinci sebagai berikut: 1. Memaksimumkan efisiensi penggunaan manajer-manajer
fungsional. 2. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan karyawan dan
merupakan tempat latihan yang baik bagi manajer-manajer strategik. 3. Melibatkan, memotivasi dan menantang karyawan serta
memperluas pandangan manajemen menengah terhadap masalah-masalah strategik
perusahaan. 4. Memberikan fleksibilitas kepada organisasi dan membantu
perkembangan kreativitas serta melipat gandakan sumber-sumber yang beraneka
ragam. 5. Menstimulasi kerjasama antar disiplin dan mempermudah
kegiatan perusahaan yang bermacam-macam dengan orientasi proyek. 6. Membebaskan manajemen puncak
untuk perencanaan. Kelemahan
organisasi matriks. Kelemahan-kelemahan organisasi
matriks adalah: 1. Pertanggung jawaban ganda dapat
menciptakan kebingunan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang kontradiktif. 2. sangat memerlukan koordinasi
horizontal dan vertikal. 3. Memerlukan lebih banyak
ketrampilan-ketrampilan antar pribadi. 4. Mendorong pertentangan kekuasaan
dan lebih mengarah perdebatan daripada kegiatan. 5. Mengandung resiko timbulnya
perasaan anarki. 6. Sangat mahal untuk diimplementasikan. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|
| Modul Kuliah |
| Akuntansi |
| Latihan Dasar Akuntansi |
| Manajemen |
| Ekonomi |
| Forum Diskusi |
| Belajar Berbisnis |