Kisah Alergi Hidup - Sebuah E-mail dari seorang teman
Ditulis Oleh: Administrator
Monday, 23 February 2009
Hariini ketika
membuka email, dalam inbox..ada kiriman email dari seseorang yang terus terang
alamat emailnya tidak ku kenal..atau mungkin saja aku lupa..(?). Namun isinya
cukup menyentuh..makanya aku forward disini, buat semua. Ini cerita yang
terdapat dalam email tersebut, semoga bermanfaat………. Buat temean yang ngirim...thanks..
Kisah Alergi Hidup
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya :
"Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya
berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya
ingin mati".
Sang Guru tersenyum : "Oh, kamu sakit".
"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati".
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : "Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama
"Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara
kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita
melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup
ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini
mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita
berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh
sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir
bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada
pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan
pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak
menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan.
Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita".
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu
benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku", kata
sang Guru.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh.
Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi", pria itu menolak
tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin
mati ?", tanya Guru.
"Ya, memang saya sudah bosan hidup", jawab pria
itu lagi.
"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini... Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini.
Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam
delapan malam kau akan mati dengan tenang".
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua
Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat
hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup,
malah menawarkan racun.
Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia
menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah
botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu,
ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu
rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan
mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama
keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan
selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin
meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya
amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik,
"Sayang, aku mencintaimu" . Sekali lagi, karena malam itu
adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar
dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan
tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke
rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin
meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh
sekali dan berkata : "Sayang, apa yang terjadi hari
ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang".
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan
setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya
?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut.
Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan
manis! Tiba- tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi
ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap
pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai
menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta
menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang
memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : "Sayang, sekali lagi aku
minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu". Anak-anak pun
tidak ingin ketinggalan : "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini,
ayah selalu tertekan karena perilaku kami".
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba,
hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh
diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia
minum, sore sebelumnya ?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu,
rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan
berkata : "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh.
Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa
maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap
detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu.
Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai
kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup.
Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan
menuju ketenangan".
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam
sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam
kekinian.
Itulah sebabnya, ia
selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !