| Cinta adalah Pacaran ! Bener Ngga Sih ? |
|
|
|
| Ditulis Oleh: Administrator | |
| Wednesday, 28 January 2009 | |
Banyak cara untuk mengungkapkan cinta. Bisa dengan kata-kata atau
tindakan. Orang Indonesia menyatakan cinta dengan kata "Aku
cinta kamu", orang Inggris bilang "I love you",
orang Afrika bilang "Ek het jou lief", orang India bilang
"Hum tumhe pyar karte hae", orang Jepang bilang "Aikotoraneru",
orang Mandarin bilang "Wo ai ni" orang Turki bilang " Seni
Seviyorum" dan sebagainya. Apapun ungkapan dan cara mereka dalam mengungkapkannya, tujuan yang
ingin diraih adalah sama. Yaitu arti cinta itu sendiri. Salah satu cara untuk
melampiaskan rasa itu adalah dengan pacaran dan menikah. Sayangnya, ungkapan
cinta dan kasih lewat pacaran itu bukan saja proses 'PDKT', tetapi sudah
mengarah pada prilaku sex bebas, sampai hubungan sejenis di antara kalangan
remaja. Alasannya, tindakan adalah bagian dari cinta yang tidak terlukiskan.
Barang tentu hubungan cinta menjadi tidak wajar dan haram dilakukan. "...Pabila cinta memanggilmu...ikutilah dia walau
jalannya berliku-liku. Dan, pabila sayapnya merangkummu...pasrahlah serta
menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..." (Kahlil
Gibran) "GUE ingin ngelepasin virgin gue!" kata Ketie.
"Untuk seks, apa duit?" tanya Stella. "Ya duit, dong!"
tegas Ketie. "Tuh kan, gue tau lo nggak bertahan lama," ujar
Stella yang dengan gembira menyambut jawaban Ketie. Obrolan singkat itu memang hanya penggalan cerita panjang film remaja
'Virgin', yang sempat menuai kontroversi. Singkatnya, Ketie, seorang remaja
yang tergila-gila pada tren dan gaya hidup mewah, bersedia melepaskan
keperawanannya dengan lelaki seusia ayahnya di toilet mal. Entah terinspirasi film-film Barat yang berbumbu esek-esek atau ingin
mencampuradukkan soal cinta, Yuli, sebut saja namanya demikian, seorang
gadis remaja, memberikan dengan sukarela keperawanannya kepada sang kekasih.
Kalau Ketie dalam Virgin berorientasi pada uang, maka mahasiswa perguruan
swasta di Salemba ini melakukannya atas nama cinta. ''Saya melakukan ini karena cinta
dia kepada saya tulus," kata Yuli, dalam suatu percakapan
pada Senin (11/6/2007) lalu. Kalimat cinta yang terlontar dari mulut kekasihnya itu, meluluh lantahkan
keteguhannya. Yuli yang sempat menolak ajakan pacarnya itu di SMA, justru
melepaskan keperawanannya disaat kuliah. "Awalnya tidak ada niat, tapi karena sikonnya mendukung jadi kelepasan
deh," ujar Yuli santai. Dia mengaku saat itu bingung karena sang pacar
menuntut pembuktian rasa cinta. Lagi-lagi dengan mengatasnamakan cinta,
peristiwa yang seharusnya tidak boleh terjadi diluar nikah itu justru
berulang-ulang dinikmati Yuli dan sang kekasih. Sex bebas...? "Gak banget deh.." timpal Dian. Mahasiswi
semester akhir komunikasi Universitas Indonesia lebih punya pendirian. Pacaran
boleh, tapi harus ada batasnya, tidak langsung buka-bukaan dengan
mengatasnamakan cinta katanya. "Kalo sebatas cium dan peluk,
itu wajar kok," lanjutnya. Dian sendiri mengaku 9 tahun membina hubungannya dengan sang kekasih, yang
juga pelatih taekwondonya. Tidak ada paksaan atau ancaman dari sang kekasih,
yang pintar dengan bela diri itu, selama berpacaran. "Berpelukan dan
ciuman itu wajar masih saya turuti, karena saya tahu laki-laki punya hasrat
yang harus disalurkan," tegasnya. Dian sendiri mengaku tidak pernah
melakukan seks terhadap kekasihnya itu. Pacarnya lebih condong dengan sikap komunikatif dan tidak memaksakan suatu
pemahaman. Dian yakin berdasar itu, hubungannya dengan sang pacar bisa bertahan
selama 9 tahun. "Positif aja, bukan yang lain-lain. Mau ketemuan
di rumah saya, rumah dia, atau di tempat sepi sekalipun, jika tujuannya baik
sebagai pacar, teman, sahabat, dan pelindung kita, tidak akan celaka,"
ujar Dian. Ada juga pendapat beberapa remaja yang memilih pacaran dengan alasan untuk
seleksi kepribadian sebelum menikah. Cara ini memang bisa memberikan
penjelasan bagi sebuah hubungan serius. Tapi tetap saja alasan seperti
ini tidak bisa dibenarkan. Karena niat menikah tidak perlu ada proses
pacaran dan coba-coba. Banyak kasus membina hubungan pacaran dalam waktu lama,
lantas kandas di setahun perkawinan alias bubar dengan alasan tidak cocok. Psikolog Dadang Hawari mengaku prihatin melihat fenomena seperti itu.
Fenomena hidup bebas seperti di Barat, adalah salah satu penyebab lunturnya
nilai-nilai norma dan agama di kalangan anak muda. "Bombardir budaya
Barat, adalah salah satu penyebab bebasnya pergaulan anak zaman sekarang,"
papar Dadang . "Kalau toh tidak karena budaya, maka situasi
dan kondisi yang ada kerap menjadi pembenaran. Makanya hindari kondisi di mana
kita cuma berdua, atau di tempat yang sepi. Hal ini terjadi karena adanya
kesempatan.'' Nah, ini saat yang tepat untuk berubah, mengubah persepsi kamu tentang
cinta. Cinta yang diaplikasikan melalui pacaran atau sex bebas adalah salah
besar dalam pandangan agama dan keyakinan. Cinta itu tidak harus kepada lawan
jenis, bisa cinta kita sampaikan kepada kakak, adik, ortu, saudara. Siapapun
bisa mengidap cinta, anak muda, orang tua ataupun "kanak-kanak" bisa
memiliki rasa cinta, Siapapun pernah berpacaran, siapapun pernah juga menikmati apa artinya
cinta. Namun siapa juga yang bisa melarang pacaran remaja dengan segala
eskpresinya. Juga tidak bisa melarang remaja dengan mengatur jadwal apel. Karena yang
bisa melarang dan menjalankan adalah remaja yang terlibat hubungan percintaan.
Penanaman pemahanan atas sebuah hubungan yang perlu didoktrinkan kepada setiap
remaja bisa membentengi diri dalam berpacaran. Namun, jangan sepenuhnya menyalahkan remaja dan anak-anak jika mereka
terlibat pacaran dengan melakukan hubungan yang lebih jauh melampuai batas.
Karena remaja yang menjalani pacaran terkadang luput dari perhatian orang tua.
Mereka tidak pernah didengar dan tidak pernah dijawab jika bertanya. Padahal, remaja juga anak yang tengah berkembang dengan mencari-mencari
arah untuk menjadi patokannya. Ironisnya, sangat jarang orang tua yang mau
melibatkan diri dalam mengarahkan anak remaja mereka dalam berpacaran. Jadi,
jangan menyalahkan anak kalau mereka diketahui kemudian mendapatkan pengetahuan
salah dalam membina hubngan berpacaran. "Fatal kalau gara-gara tak mendapat pengetahuan dari orang tua, remaja
malah terlibat perilaku menyimpang yang biasanya berkaitan dengan seks
bebas," ujar Dr Nafsiah Mboi SpA MPH, Penasihat Ahli Sekretaris Komisi
Penanggulangan AIDS. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dr Siswanto
Agus Wilopo menambahkan "Inti dari yang seharusnya dari pacaran itu,
akhirnya melenceng, dari yang seharusnya untuk saling mengenal dan mendalami
kepribadian satu sama lain, berubah arah menjadi sentuhan-sentuhan fisik".
Dalam posisi ini, peran orang tua atau guru sekolah begitu penting dalam
memberikan pendidikan norma bagi batasan pergaulan anak remaja. Begitu juga
dalam sosialisasi pendidikan tentang kesehatan reproduksi wanita dan pria di
usia dini, untuk mencegah terjadinya pergaulan bebas yang berakibat kepada
kehamilan. "Misalnya, penjelasan tentang kondom". Studi di luar negeri membuktikan, pendidikan seks sejak dini bisa mencegah
timbulnya masalah seperti seks bebas atau penularan penyakit kelamin semacam
HIV dan Hepatitis. Jadi, sudah saatnya orang dewasa lebih terbuka dalam
memberikan pendidikan seks pada anaknya," ujarnya. Tentu saja, sebatas
yang perlu dikonsumsi oleh ABG. (Her/rev) indosiar.com |
|
| Terakhir Diperbaharui ( Tuesday, 03 February 2009 ) |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|
| Modul Kuliah |
| Akuntansi |
| Latihan Dasar Akuntansi |
| Manajemen |
| Ekonomi |
| Forum Diskusi |
| Belajar Berbisnis |