| Mengubah Dunia di usia Belia |
|
|
|
| Ditulis Oleh: Administrator | |
| Tuesday, 20 January 2009 | |
|
Sekilas Tentang Huruf Braille Louis Braille menjadi buta saat berumur tiga
tahun karena kecelakaan. Di tahun 1819, awal masa sekolahnya, Louis yang
bersekolah di The Royal Institute of Blind Youth -- sekolah khusus
tunanetra di Paris --- merasakan betapa sulitnya kegiatan membaca dan menulis
bagi orang-orang buta. Meski berbagai usaha telah dilakukan untuk
membuat para tunanetra bisa membaca, misalnya dengan mencetak huruf-huruf dalam
ukuran lebih besar secara timbul, atau mengadopsi bahasa sandi militer (night writing)
yang berupa titik-titik timbul untuk digunakan para tunanetra, namun semua itu
dibuat tanpa lebih dahulu mempertimbangkan apakah metode ini mudah, tepat dan
dapat memenuhi kebutuhan para tunanetra akan membaca, menulis serta
kebutuhan akan buku. Cara itu tidak hanya menyulitkan tunanetra
saat membaca karena huruf dicetak dalam ukuran besar, juga tidak memungkinkan
tunanetra menulis. Di samping itu, karena ukuran huruf yang besar-besar
tersebut, biaya pembuatan buku untuk tunanetra menjadi sangat mahal, akibatnya
sekolah tersebut hanya mampu menyediakan 14 buku untuk seratus orang
murid-murid yang belajar di sana. Pada tahun 1821, seorang perwira Kapten
Charles Barbier hadir memperkenalkan “bahasa sandi” yang biasa dipakai oleh
prajurit-prajuritnya untuk menyampaikan pesan rahasia, yang disebutnya “night
writing”. Bahasa sandi ini berbentuk titik-tititk timbul, dibuat dengan
alat menyerupai paku yang disebut “stylus”. Untuk menuliskannya, stylus
ditusukkan ke kertas tebal yang terletak pada papan kayu.
Stylus akan ditusukkan pada satu sisi dari kertas, dan hasilnya
dibaca pada sisi lain dari kertas tersebut. Menurut Kapten Barbier,
metode ini juga bisa digunakan oleh orang-orang buta, karena titik-titik timbul
tersebut dapat diraba dengan jari-jari mereka. Awalnya, para tunanetra yang belajar di
The Royal Institute of Blind Youth terkesan dengan usulan Kapten Barbier.
Tetapi kemudian, mereka merasakan masih ada yang salah dengan metode ini.
Bahasa sandi tersebut hanya melambangkan bunyi-bunyi dalam suatu kata. Ini
berarti akan ada ratusan sandi atau simbol yang mewakili bunyi-bunyian
pada suatu bahasa. Di samping itu, karena titik-titik timbul itu
hanya mensimbolkan bunyi, maka tunanetra tidak akan dapat membuat angka serta
tanda baca. Ini akan menyulitkan jika harus membuat sebuah buku. Metode ini
akan mudah jika hanya dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan singkat, seperti
yang dilakukan oleh para tentara; misalnya “serang”, atau, “ada musuh di
belakangmu”. Bagi Louis, tak ada yang salah dengan “metode
titik-titik timbul” Kapten Barbier. Hanya saja, titik-titik timbul itu tidak
dibuat untuk melambangkan bunyi, tapi menurut Louis, titik-titik timbul itu
seharusnya dibuat untuk melambangkan alfabet, angka, serta tanda baca. Dengan
demikian, tunanetra akan sama dengan mereka yang bisa melihat; memiliki
alfabet, tanda baca, serta angka dan tanda-tanda lain yang juga dipergunakan
oleh mereka yang bisa melihat, dapat membaca dan menulis, serta, yang paling
penting adalah dapat memiliki buku. Karena tunanetra membaca dengan indera
perabaan, maka Louis berpikir, huruf-huruf untuk mereka harus dapat dengan
mudah dikenali cukup dengan merabakan satu ujung jari saja. Itu artinya, ukuran
huruf itu harus tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil.
Diusianya yang keduabelas, yang juga berarti
di tahun ketiganya berada di sekolah khusus untuk tunanetra di Paris, secara
diam-diam Louis muda memulai penelitiannya. Ia menciptakan kombinasi enam
titik, yang dari enam titik itu tersusunlah symbol-simbol alfabet untuk
orang-orang buta, yang kemudian disebut sebagai “system kecil”. Selama kurang lebih tiga tahun mengadakan
penelitian, Louis senantiasa melibatkan teman-temannya sesama tunanetra untuk
uji coba, apakah mereka merasa nyaman dengan system yang ia ciptakan. Pada
usianya yang ke-15 tahun, Louis remaja berhasil menyelesaikan penelitiannya;
menciptakan alfabet berbentuk titik-titik timbul untuk tunanetra. Tekun Dan Gigih Berjuang Setelah menyelesaikan penelitiannya, Louis
muda merasakan mengusulkan agar alfabet kombinasi enam titik ciptaannya
itu untuk diajarkan dan digunakan secara resmi di sekolah The Royal Institute
Of Blind Youth, bukanlah sesuatu yang mudah. Dalam perjalanannya mengupayakan
agar alfabet ciptaannya diterima dan digunakan secara resmi di sekolah-sekolah,
Louis bahkan sempat mendapatkan penolakan yang sangat keras dari kepala sekolah
tempatnya mengajar. Fakta bahwa ide brilian itu datang dari seorang anak buta
justru dijadikan salah satu alasan penolakannya. Saat itu Louis memahami bahwa orang-orang yang
selama ini bekerja untuk tunanetra memang tampak bersikap baik dan menolong.
Akan tetapi, pada umumnya mereka berpendapat bahwa orang-orang buta tidak
secerdas mereka yang bisa melihat, sehingga orang buta seharusnya cukuplah puas
dengan hanya melakukan hal-hal sederhana saja; membaca kalimat-kalimat
pendek serta pesan-pesan singkat, dan memahami arah; yang berarti orang buta
tak perlu membaca buku. Ketika sekolahnya dipimpin oleh DR. Pignier
dan Louis menyelesaikan penelitiannya, barulah ciptaannya itu bisa diterima.
Bahkan ketika Louis meminta DR Pignier (yang sangat memahami pemikirannya),
untuk mengupayakan dukungan baik dari masyarakat yang menyangga penyelenggaraan
sekolah secara finansial maupun dari Pemerintah Perancis, Pignier pun
melakukannya. Surat-surat lalu dikirimkan kepada semua
pihak. Ada yang segera menanggapi, ada juga yang tidak segera merespon. Dari
semua jawaban yang diterima ada dua kelompok. Yang pertama mengatakan
bahwa ide Louis sangat baik, tapi itu disampaikan hanyalah sebagai ungkapan
penolakan secara tidak langsung. Kelompok kedua adalah mereka yang langsung
marah dan menolak, dan menginginkan tetap diberlakukannya metode lama –
huruf-huruf timbul – yang selama ini telah digunakan; tidak perlu ada
perubahan. Sementara menunggu dukungan dari Pemerintah,
Louis terus mengajarkannya kepada murid-murid lain, dan mereka mulai membuat
catatan-catatan di kelas. Hal ini juga masih terus berlangsung saat Louis
menyelesaikan pendidikannya dan diangkat menjadi guru di sekolah tersebut.
Bahkan, setelah menjadi guru, Louis mulai menulis buku-buku pelajaran dalam
alfabet berbentuk titik timbul ciptaannya itu, yang secara bertahap
mengisi perpustakan sekolah. Tapi di tahun 1841, DR. Dufau yang mengambil
alih kepemimpinan sekolah melarang penggunaan alfabet ciptaan Louis. Dufau tak
segan menghukum murid yang tertangkap atau ketahuan secara sembunyi-sembunyi
masih menggunakannya. Tidak hanya itu, dia juga bahkan membakar semua buku-buku
yang ditulis Louis, yang selama tahun-tahun keberadaannya sebagai
guru telah memenuhi perpustakaan sekolah. Larangan Kepala Sekolah Dufau juga didukung
oleh guru-guru, yang selama ini mencemaskan penemuan Louis demi untuk kepentingan
pribadi mereka sendiri. Guru-guru ini berpikir, jika para siswa membaca
dengan huruf-huruf timbul seperti semula, guru akan dengan mudah mengajar,
karena mereka telah mengenal dengan baik huruf-huruf besar dan timbul itu.
Sedangkan, jika menggunakan alfabet ciptaan Louis, itu berarti mereka harus
juga mempelajari sesuatu yang baru. Lebih dari itu, kekhawatiran mereka juga,
jika huruf ciptaan Louis telah digunakan lebih banyak tunanetra, besar
kemungkinan sekolah juga akan dikelola oleh para tunanetra, dan mereka akan
kehilangan pekerjaan. Itulah puncak masa-masa sulit Louis. Ia tidak
hanya berjuang mengupayakan penggunaan alfabet ciptaannya untuk orang-orang
buta, tapi ia juga harus berjuang melawan penyakit Tuberculosis yang
dideritanya, yang makin hari kian bertambah parah. Di sisi lain, Louis juga mendapati murid-murid
tetap bersemangat menggunakannya; menulis catatan, buku harian serta
pesan rahasia antar sesama murid, seolah tak peduli pada larangan kepala
sekolah. Murid senior terus mengajarkan kepada siswa yunior, meski secara
rahasia. Mereka juga senantiasa bisa menemukan alat-alat pengganti untuk
menulis, setelah Dufau memusnahkan stylus-stylus mereka. Situasi ini ternyata dibaca oleh seorang guru
lain, DR. Joseph Gaudet, satu-satunya guru yang saat itu berpihak pada Louis.
Sikap empatinya dilandasi pada kesadaran bahwa, Dufau mungkin saja bisa
melarang penggunaan alfabet ciptaan Louis, akan tetapi, dia tidak mungkin bisa
menghentikan murid-murid menggunakannya. Mereka sangat bersemangat, mereka
menyukainya, karena alfabet itu sesuai dengan kebutuhan
mereka. Dengan kecerdikannya berdiplomasi, Joseph
Gaudet berhasil meyakinkan Dufau, kepala sekolah yang sebenarnya orang yang
sangat ambisius mengejar kepentingan pribadinya, bahwa, akan sangat baik bagi
Dufau jika dia menjadi orang pertama yang memberlakukan secara resmi alfabet
ciptaan Louis di sekolah mereka, daripada terus melarangnya. Dengan melarang,
Dufau akan berada di pihak yang kalah, karena murid akan terus menggunakannya,
meski secara sembunyi-sembunyi. Tetapi, jika mengijinkan, dia akan menjadi
pihak yang menang, karena murid-murid dan bahkan juga orang-orang buta di
seluruh dunia akan mendukung dan menghargainya. Di tahun 1844, pada acara peresmian gedung
sekolah yang baru, yang dihadiri oleh wakil pemerintah, pemuka masyarakat dan
guru-guru (termasuk guru dari sekolah lain), Dufau mendemonstrasikan penggunan
alfabet berbentuk titik-titik timbul ciptaan Louis kepada para hadirin. Ia
membacakan teks, dan meminta seorang murid menuliskannya dalam alfabet
tersebut, serta meminta murid tersebut membaca kembali hasil tulisannya. Sebagian hadirin terkesan, tapi, ada sebagian
lain yang mengira itu adalah “trick” semata, dengan ala an murid tersebut telah
dipersiapkan sebelumnya. Situasi ini mendorong Louis untuk meminta Kepala
Sekolah Dufau mengundang seorang hadirin melakukan hal serupa pada murid
lainnya, yang ditunjuk secara mendadak saat itu juga. Setelah terbukti murid
berikutnya juga berhasil melakukan hal yang sama, barulah seluruh orang yang
hadir percaya, bahwa alfabet berbentuk titik timbul ciptaan Louis adalah
penemuan yang “brilian”. Sejak saat itu, secara bertahap
sekolah-sekolah untuk anak-anak buta lainnya mulai menggunakannya, tidak hanya
di dalam negeri Perancis, tapi juga di negara-negara lain di Eropa, dan
akhirnya di seluruh dunia. Sebagai penghargaan pada Louis Braille, orang lalu
menyebut alfabet ciptaannya sebagai “Huruf Braille”, dan tentu saja Louis
sangat senang mendengarnya. Belajar Dari Louis Braille Louis Braille adalah anak seorang pembuat
pakaian kuda terkenal, Simon Braille, lahir empat Januari 1809 di Coupvray,
sebuah desa di Perancis. Sejak menjadi buta di usia tiga tahun akibat
kecelakan di bengkel kerja ayahnya, tak semua hal mudah bagi Louis. Kala itu, sangat sedikit yang bisa dilakukan
orang-orang buta di Perancis. Sebagian besar dari mereka hanya menjadi
pengemis, termasuk orang-orang buta di Coupvray. Pada awalnya, kedua orang tua
Louis pun sangat merasa kasihan pada anak lelaki mereka. Mereka cenderung
melindungi secara berlebihan, bahkan juga memanjakan. Tapi, kemudian, mereka
berpikir, Louis harus tumbuh seperti anak-anak lain yang tidak buta. Mereka
tidak ingin Louis seperti anak-anak buta lainnya, yang takut melakukan hal
apapun. Mereka lalu mengajari Louis bagaimana
mengenali lingkungan rumahnya, hingga ia tidak lagi menabrak benda-benda ketika
berjalan. Ayahnya mengajarinya bekerja menghaluskan kulit di bengkel; Louis
memang tidak dapat melihat, tapi dia bisa merasakan kehalusan kulit dengan
jarinya. Begitu pula Ibunya. Setiap malam, Louis membantu Ibunya menyiapkan
meja sebelum makan malam. Louis memahami benar di mana ia harus meletakkan
piring, mangkuk dan gelas. Ia juga harus pergi ke sumur mengambil air untuk
minum dengan ember. Untuk itu, ia harus melalui jalan kecil yang berbatu.
Sering air di embernya tumpah karena ia tersandung batu-batu tersebut. Tapi,
Louis tetap harus kembali dengan ember berisi air. Demi memudahkan Louis, ayahnya lalu membuatkan
tongkat dan mengajari Louis bagaimana mengunakannya. Louis mengetuk-ngetukkan
tongkatnya ke tanah dihadapannya ketika berjalan. Dan, jika ujung tongkat itu
menabrak sesuatu, tahulah ia, saatnya untuk berhenti dan minggir atau berjalan
di sampingnya. Dalam perkembangannya, Louis juga berhasil
menemukan caranya sendiri agar tidak menabrak saat berjalan, yaitu dengan
bernyanyi atau bersenandung. Dengan bersuara, Louis dapat merasakan jika ada
benda-benda di hadapannya, dinding, pintu, atau lemari; gema suaranya akan
terpantul kembali lebih cepat jika ada benda-benda di hadapannya. Ia belajar
dari apa yang dilakukan kelelawar. Meski tidak dapat melihat dengan jelas,
kelelawar tetap dapat terbang di malam gelap, itu karena mereka terbang sambil
bersuara. Begitu juga halnya dengan cara Louis mengenali
lingkungan di sekitarnya. Ia senantiasa bisa menemukan cara untuk membuat
dirinya semakin hari semakin pandai, mengenali dan membedakan; suara
orang-orang, langkah kaki kuda dan lain-lain. Ia hidup dengan
mengandalkan tanda-tanda yang dia tetapkan sendiri; Ini semua tidak lepas dari
peran orang tua yang sedini mungkin mengajarkan pada Louis segala hal yang
dilakukan oleh orang-orang yang tidak buta. Hanya saja, Louis harus
melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda. Meski buta, Louis tetap tumbuh menjadi
anak yang penuh rasa ingin tahu. Ia juga tidak ingin dikasihani. Saat menginjak
usia enam tahun, , kedua orang tuanya bingung, tak ada sekolah untuk anak buta
di desa mereka. Tapi, berkat pertolongan pendeta Jacques Palluy di desanya, Louis
memulai kegiatan belajar. Awalnya, sang pendetalah yang memberikan pelajaran
pada Louis. Tapi keinginan dan kesadaran akan pentingnya
menulis dan membaca Louis sangat tinggi, sehingga ingga Pendeta Palluy
memasukkannya ke The Royal Institute Of Blind Youth, sebuah sekolah untuk
tunanetra di Paris, yang kemudian menjadi tempat Louis belajar dan bekerja,
serta menciptakan alfabet berbentuk titik-titik timbul untuk para tunanetra. Kini, 185 tahun setelah Louis Braille
menciptakan huruf Braille, Cita-citanya masih belum sepenuhnya tercapai. Di
negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia,masih banyak anak-anak
tunanetra belum bersekolah di saat usia mereka sudah memasuki masa duduk
di kelas. Mereka belum mengenal huruf, apalagi membaca. Mereka yang sudah dapat
membaca pun masih belum dicukupi dengan buku-buku yang mereka perlukan. Masih dibutuhkan ratusan Louis Braille, ribuan
orang seperti Pendeta Palluy, DR. Pignier, Joseph Gaudet, bahkan orang seperti
Dufau di seluruh penjuru bumi. Louis Braille telah mencontohkannya kepaa kita
semua, diperlukan kerja sama untuk mewujudkan impian. Di era dengan dukungan
kemajuan teknologi seperti sekarang ini, seharusnyalah upaya meneruskan
perjuangan Louis Braille agar para tunanetra dapat menjadi manusia berpendidikan
bukanlah hal yang terlalu sulit. Diperlukan upaya bersama, kegigihan, ketekunan
serta komitmen dan konsistensi semua pihak, seperti yang dicontohkan Louis
Braille.(sumber : Louis Braille, The Boy Who Invented Books for
the Blind By: Margaret Davidson, Published by Scholastic Inc./Aria
Indrawati/Ijs) |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|
| Modul Kuliah |
| Akuntansi |
| Latihan Dasar Akuntansi |
| Manajemen |
| Ekonomi |
| Forum Diskusi |
| Belajar Berbisnis |