Mengubah Dunia di usia Belia PDF Print E-mail
Penilaian User: / 0
TerburukTerbaik 
Ditulis Oleh: Administrator   
Tuesday, 20 January 2009

ImagePada tanggal 4 Januari, dunia memperingatinya sebagai Hari Braille. Tanggal itu merupakan hari kelahiran Louis Braille, tunanetra asal Perancis yang menciptakan huruf Braille, huruf yang biasa dipakai para tunanetra.  Pernahkah terbersit dalam pikiran kita bagaimana Louis Braille menciptakan huruf-huruf tersebut ?! Sangat mengagumkan karena ia menciptakan pada usia belia, 15 tahun. Dengan jerih payahnya itu, Louis telah membuka jendela ilmu pengetahuan bagi mereka yang "dalam gulita" (tunanetra).


Sekilas Tentang Huruf Braille

Louis Braille menjadi buta saat berumur tiga tahun karena kecelakaan. Di tahun 1819, awal masa sekolahnya, Louis yang bersekolah di The Royal Institute of Blind Youth --  sekolah khusus tunanetra di Paris --- merasakan betapa sulitnya kegiatan membaca dan menulis bagi orang-orang buta.

Meski berbagai usaha telah dilakukan untuk membuat para tunanetra bisa membaca, misalnya dengan mencetak huruf-huruf dalam ukuran lebih besar secara timbul, atau mengadopsi bahasa sandi militer (night writing) yang berupa titik-titik timbul untuk digunakan para tunanetra, namun semua itu dibuat tanpa lebih dahulu mempertimbangkan apakah metode ini mudah, tepat dan dapat memenuhi kebutuhan  para tunanetra akan membaca, menulis serta kebutuhan akan buku.

Cara itu tidak hanya menyulitkan tunanetra saat membaca karena huruf dicetak dalam ukuran besar, juga tidak memungkinkan tunanetra menulis. Di samping itu, karena ukuran huruf yang besar-besar tersebut, biaya pembuatan buku untuk tunanetra menjadi sangat mahal, akibatnya sekolah tersebut hanya mampu menyediakan 14 buku untuk seratus orang murid-murid yang belajar di sana.

Pada tahun 1821, seorang perwira Kapten Charles Barbier hadir memperkenalkan “bahasa sandi” yang biasa dipakai oleh prajurit-prajuritnya untuk menyampaikan pesan rahasia, yang disebutnya “night writing”. Bahasa sandi ini berbentuk titik-tititk  timbul, dibuat dengan alat menyerupai paku yang disebut “stylus”.  Untuk menuliskannya, stylus ditusukkan ke kertas  tebal  yang terletak pada papan kayu.  Stylus akan ditusukkan pada satu sisi dari kertas, dan hasilnya   dibaca pada sisi lain dari kertas tersebut.  Menurut Kapten Barbier,  metode ini juga bisa digunakan oleh orang-orang buta, karena titik-titik timbul tersebut dapat diraba dengan jari-jari mereka.

Awalnya, para  tunanetra yang belajar di The Royal Institute of Blind Youth terkesan dengan usulan Kapten Barbier. Tetapi kemudian, mereka merasakan masih ada yang salah dengan metode ini. Bahasa sandi tersebut hanya melambangkan bunyi-bunyi dalam suatu kata. Ini berarti akan ada ratusan sandi atau simbol  yang mewakili bunyi-bunyian pada suatu bahasa.

Di samping itu, karena titik-titik timbul itu hanya mensimbolkan bunyi, maka tunanetra tidak akan dapat membuat angka serta tanda baca. Ini akan menyulitkan jika harus membuat sebuah buku. Metode ini akan mudah jika hanya dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan singkat, seperti yang dilakukan oleh para tentara; misalnya “serang”, atau, “ada musuh di belakangmu”.

Bagi Louis, tak ada yang salah dengan “metode titik-titik timbul” Kapten Barbier. Hanya saja, titik-titik timbul itu tidak dibuat untuk melambangkan bunyi, tapi menurut Louis, titik-titik timbul itu seharusnya dibuat untuk melambangkan alfabet, angka, serta tanda baca. Dengan demikian, tunanetra akan sama dengan mereka yang bisa melihat; memiliki alfabet, tanda baca, serta angka dan tanda-tanda lain yang juga dipergunakan oleh mereka yang bisa melihat, dapat membaca dan menulis, serta, yang paling penting adalah dapat memiliki buku.   

Karena tunanetra membaca dengan indera perabaan, maka Louis berpikir, huruf-huruf untuk mereka harus dapat dengan mudah dikenali cukup dengan merabakan satu ujung jari saja. Itu artinya, ukuran huruf itu harus tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil.  

Diusianya yang keduabelas, yang juga berarti di tahun ketiganya berada di sekolah khusus untuk tunanetra di Paris, secara diam-diam Louis muda memulai penelitiannya. Ia menciptakan kombinasi enam titik, yang dari enam titik itu tersusunlah symbol-simbol alfabet untuk orang-orang buta, yang kemudian disebut sebagai “system kecil”.

Selama kurang lebih tiga tahun mengadakan penelitian, Louis senantiasa melibatkan teman-temannya sesama tunanetra untuk uji coba, apakah mereka merasa nyaman dengan system yang ia ciptakan. Pada usianya yang ke-15 tahun, Louis remaja berhasil menyelesaikan penelitiannya; menciptakan alfabet berbentuk titik-titik timbul untuk tunanetra.

Tekun Dan Gigih Berjuang

Setelah menyelesaikan penelitiannya, Louis muda merasakan mengusulkan agar alfabet kombinasi enam titik  ciptaannya itu untuk diajarkan dan digunakan secara resmi di sekolah The Royal Institute Of Blind Youth, bukanlah sesuatu yang mudah. Dalam perjalanannya mengupayakan agar alfabet ciptaannya diterima dan digunakan secara resmi di sekolah-sekolah, Louis bahkan sempat mendapatkan penolakan yang sangat keras dari kepala sekolah tempatnya mengajar. Fakta bahwa ide brilian itu datang dari seorang anak buta justru dijadikan salah satu alasan penolakannya.

Saat itu Louis memahami bahwa orang-orang yang selama ini bekerja untuk tunanetra memang tampak bersikap baik dan menolong. Akan tetapi, pada umumnya mereka berpendapat  bahwa orang-orang buta tidak secerdas mereka yang bisa melihat, sehingga orang buta seharusnya cukuplah puas dengan  hanya melakukan hal-hal sederhana saja; membaca kalimat-kalimat pendek serta pesan-pesan singkat, dan memahami arah; yang berarti orang buta tak perlu membaca buku.

Ketika sekolahnya dipimpin oleh DR. Pignier dan Louis menyelesaikan penelitiannya, barulah ciptaannya itu bisa diterima. Bahkan ketika Louis meminta DR Pignier (yang sangat memahami pemikirannya), untuk mengupayakan dukungan baik dari masyarakat yang menyangga penyelenggaraan sekolah secara finansial maupun dari Pemerintah Perancis, Pignier pun melakukannya.

Surat-surat lalu dikirimkan kepada semua pihak. Ada yang segera menanggapi, ada juga yang tidak segera merespon. Dari semua jawaban yang diterima ada dua kelompok. Yang  pertama mengatakan bahwa ide Louis sangat baik, tapi itu disampaikan hanyalah sebagai ungkapan penolakan secara tidak langsung. Kelompok kedua adalah mereka yang langsung marah dan menolak, dan menginginkan tetap diberlakukannya metode lama – huruf-huruf timbul – yang selama ini telah digunakan; tidak perlu ada perubahan. 

Sementara menunggu dukungan dari Pemerintah, Louis terus mengajarkannya kepada murid-murid lain, dan mereka mulai membuat catatan-catatan di kelas. Hal ini juga masih terus berlangsung saat Louis menyelesaikan pendidikannya dan diangkat menjadi guru di sekolah tersebut. Bahkan, setelah menjadi guru, Louis mulai menulis buku-buku pelajaran dalam alfabet berbentuk titik timbul ciptaannya itu, yang secara bertahap  mengisi perpustakan sekolah.

Tapi di tahun 1841, DR. Dufau yang mengambil alih kepemimpinan sekolah melarang penggunaan alfabet ciptaan Louis. Dufau tak segan menghukum murid yang tertangkap atau ketahuan secara sembunyi-sembunyi masih menggunakannya. Tidak hanya itu, dia juga bahkan membakar semua buku-buku yang ditulis Louis, yang selama  tahun-tahun keberadaannya  sebagai guru telah memenuhi perpustakaan sekolah. 

Larangan Kepala Sekolah Dufau juga didukung oleh guru-guru, yang selama ini mencemaskan penemuan Louis demi untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Guru-guru  ini berpikir, jika para siswa membaca dengan huruf-huruf timbul seperti semula, guru akan dengan mudah mengajar, karena mereka telah mengenal dengan baik huruf-huruf besar dan timbul itu. Sedangkan, jika menggunakan alfabet ciptaan Louis, itu berarti mereka harus juga mempelajari sesuatu yang baru. Lebih dari itu, kekhawatiran mereka juga, jika huruf ciptaan Louis telah digunakan lebih banyak tunanetra, besar kemungkinan sekolah juga akan dikelola oleh para tunanetra, dan mereka akan kehilangan pekerjaan.

Itulah puncak masa-masa sulit Louis. Ia tidak hanya berjuang mengupayakan penggunaan alfabet ciptaannya untuk orang-orang buta, tapi ia juga harus berjuang melawan penyakit Tuberculosis yang dideritanya, yang makin hari kian bertambah parah.

Di sisi lain, Louis juga mendapati murid-murid tetap bersemangat menggunakannya; menulis catatan,  buku harian serta pesan rahasia antar sesama murid,  seolah tak peduli pada larangan kepala sekolah. Murid senior terus mengajarkan kepada siswa yunior, meski secara rahasia. Mereka juga senantiasa bisa menemukan alat-alat pengganti untuk menulis, setelah Dufau memusnahkan stylus-stylus mereka. 

Situasi ini ternyata dibaca oleh seorang guru lain, DR. Joseph Gaudet, satu-satunya guru yang saat itu berpihak pada Louis. Sikap empatinya dilandasi pada kesadaran bahwa, Dufau mungkin saja bisa melarang penggunaan alfabet ciptaan Louis, akan tetapi, dia tidak mungkin bisa menghentikan murid-murid menggunakannya. Mereka sangat bersemangat, mereka menyukainya, karena alfabet itu sesuai dengan kebutuhan mereka.   

Dengan kecerdikannya berdiplomasi, Joseph Gaudet berhasil meyakinkan Dufau, kepala sekolah yang sebenarnya orang yang sangat ambisius mengejar kepentingan pribadinya, bahwa, akan sangat baik bagi Dufau jika dia menjadi orang pertama yang memberlakukan secara resmi alfabet ciptaan Louis di sekolah mereka, daripada terus melarangnya. Dengan melarang, Dufau akan berada di pihak yang kalah, karena murid akan terus menggunakannya, meski secara sembunyi-sembunyi. Tetapi, jika mengijinkan, dia akan menjadi pihak yang menang, karena murid-murid dan bahkan juga orang-orang buta di seluruh dunia akan mendukung dan menghargainya.  

Di tahun 1844, pada acara peresmian gedung sekolah yang baru, yang dihadiri oleh wakil pemerintah, pemuka masyarakat dan guru-guru (termasuk guru dari sekolah lain), Dufau mendemonstrasikan penggunan alfabet berbentuk titik-titik timbul ciptaan Louis kepada para hadirin. Ia membacakan teks, dan meminta seorang murid menuliskannya dalam alfabet tersebut, serta meminta murid tersebut  membaca kembali hasil tulisannya.

Sebagian hadirin terkesan, tapi, ada sebagian lain yang mengira itu adalah “trick” semata, dengan ala an murid tersebut telah dipersiapkan sebelumnya. Situasi ini mendorong Louis untuk meminta Kepala Sekolah Dufau mengundang seorang hadirin melakukan hal serupa pada murid lainnya, yang ditunjuk secara mendadak saat itu juga. Setelah terbukti murid berikutnya juga berhasil melakukan hal yang sama, barulah seluruh orang yang hadir percaya, bahwa alfabet berbentuk titik timbul ciptaan Louis adalah penemuan yang “brilian”.

Sejak saat itu, secara bertahap sekolah-sekolah untuk anak-anak buta lainnya mulai menggunakannya, tidak hanya di dalam negeri Perancis, tapi juga di negara-negara lain di Eropa, dan akhirnya di seluruh dunia. Sebagai penghargaan pada Louis Braille, orang lalu menyebut alfabet ciptaannya sebagai “Huruf Braille”, dan tentu saja Louis sangat senang mendengarnya.

Belajar Dari Louis Braille

Louis Braille adalah anak seorang pembuat pakaian kuda terkenal, Simon Braille, lahir empat Januari 1809 di Coupvray, sebuah  desa di Perancis. Sejak menjadi buta di usia tiga tahun akibat kecelakan di bengkel kerja ayahnya, tak semua hal mudah bagi Louis.

Kala itu, sangat sedikit yang bisa dilakukan orang-orang buta di Perancis. Sebagian besar dari mereka hanya menjadi pengemis, termasuk orang-orang buta di Coupvray. Pada awalnya, kedua orang tua Louis pun sangat merasa kasihan pada anak lelaki mereka. Mereka cenderung melindungi secara berlebihan, bahkan juga memanjakan. Tapi, kemudian, mereka berpikir, Louis harus tumbuh seperti anak-anak lain yang tidak buta. Mereka tidak ingin Louis seperti anak-anak buta lainnya, yang takut melakukan hal apapun.

Mereka lalu mengajari Louis bagaimana mengenali lingkungan rumahnya, hingga ia tidak lagi menabrak benda-benda ketika berjalan. Ayahnya mengajarinya bekerja menghaluskan kulit di bengkel; Louis memang tidak dapat melihat, tapi dia bisa merasakan kehalusan kulit dengan jarinya. Begitu pula Ibunya. Setiap malam, Louis membantu Ibunya menyiapkan meja sebelum makan malam. Louis memahami benar di mana ia harus meletakkan piring, mangkuk dan gelas. Ia juga harus pergi ke sumur mengambil air untuk minum dengan ember. Untuk itu, ia harus melalui jalan kecil yang berbatu. Sering air di embernya tumpah karena ia tersandung batu-batu tersebut. Tapi, Louis tetap harus kembali dengan ember berisi air.

Demi memudahkan Louis, ayahnya lalu membuatkan tongkat dan mengajari Louis bagaimana mengunakannya. Louis mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah dihadapannya ketika berjalan. Dan, jika ujung tongkat itu menabrak sesuatu, tahulah ia, saatnya untuk berhenti dan minggir atau berjalan di sampingnya.   

Dalam perkembangannya, Louis juga berhasil menemukan caranya sendiri agar tidak menabrak saat berjalan, yaitu dengan bernyanyi atau bersenandung. Dengan bersuara, Louis dapat merasakan jika ada benda-benda di hadapannya, dinding, pintu, atau lemari; gema suaranya akan terpantul kembali lebih cepat jika ada benda-benda di hadapannya. Ia belajar dari apa yang dilakukan kelelawar. Meski tidak dapat melihat dengan jelas, kelelawar tetap dapat terbang di malam gelap, itu karena mereka terbang sambil bersuara.

Begitu juga halnya dengan cara Louis mengenali lingkungan di sekitarnya. Ia senantiasa bisa menemukan cara untuk membuat dirinya semakin hari semakin pandai, mengenali dan membedakan; suara orang-orang, langkah kaki kuda dan lain-lain.  Ia hidup dengan mengandalkan tanda-tanda yang dia tetapkan sendiri; Ini semua tidak lepas dari peran orang tua yang sedini mungkin mengajarkan pada Louis segala hal yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak buta. Hanya saja, Louis harus melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda. 

 Meski buta, Louis tetap tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu. Ia juga tidak ingin dikasihani. Saat menginjak usia enam tahun, , kedua orang tuanya bingung, tak ada sekolah untuk anak buta di desa mereka. Tapi, berkat pertolongan pendeta Jacques Palluy di desanya, Louis memulai kegiatan belajar. Awalnya, sang pendetalah yang memberikan pelajaran pada Louis.

Tapi keinginan dan kesadaran akan pentingnya menulis dan membaca Louis sangat tinggi, sehingga ingga Pendeta Palluy memasukkannya ke The Royal Institute Of  Blind Youth, sebuah sekolah untuk tunanetra di Paris, yang kemudian menjadi tempat Louis belajar dan bekerja, serta menciptakan alfabet berbentuk titik-titik timbul untuk para tunanetra.

Kini, 185 tahun setelah Louis Braille menciptakan huruf Braille, Cita-citanya masih belum sepenuhnya tercapai. Di negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia,masih banyak anak-anak tunanetra belum bersekolah di saat usia mereka sudah memasuki masa  duduk di kelas. Mereka belum mengenal huruf, apalagi membaca. Mereka yang sudah dapat membaca pun masih belum dicukupi dengan buku-buku yang mereka perlukan.

Masih dibutuhkan ratusan Louis Braille, ribuan orang seperti Pendeta Palluy, DR. Pignier, Joseph Gaudet, bahkan orang seperti Dufau di seluruh penjuru bumi. Louis Braille telah mencontohkannya kepaa kita semua, diperlukan kerja sama untuk mewujudkan impian. Di era dengan dukungan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, seharusnyalah upaya meneruskan perjuangan Louis Braille agar para tunanetra dapat menjadi manusia berpendidikan bukanlah hal yang terlalu sulit. Diperlukan upaya bersama, kegigihan, ketekunan serta komitmen dan konsistensi semua pihak, seperti yang dicontohkan Louis Braille.(sumber :  Louis Braille, The Boy Who Invented Books for the Blind By: Margaret Davidson, Published by Scholastic Inc./Aria Indrawati/Ijs)

 

 
< Sebelum   Berikut >
Advertisement
 
 

Kirim Berita/Artikel ?

Mau kirim artikel/berita?
Siapa saja boleh mengirim warta atau artikel yang informatif
Silakahkan login terlebih dahulu..
Klik YOUR BLOG di user menu
Tunggu apa lagi? Mari berbagi informasi
pada sesama..
Caranya gampang...di USER MENU, klik YOUR BLOG, lalu di menu yang muncul..klik CREATE BLOG..isikan judul(title), lalu pilih kategori yg sesuai..
Gampang kali..lagiiie...
Buat my dear students..yang ingin ngirim tugas..caranya : login terlebih dahulu...di User Menu pilih kategori KIRIM TUGAS...

Link Situs

 

Syndicate

smakmoer

Image

SEHAT jasmani berarti sehat rohani. Namun tidak pada penderita paedofilia, yaitu orang yang lebih suka pada anak kecil untuk melampiaskan nafsu seksualnya. Seperti apa mereka?Konsultan seks Dr Ferryal Loetan ASC&T SpRM MKes-MMR mengatakan, paedofilia adalah pria atau wanita dewasa tertarik secara hati atau seksual dengan anak-anak kecil yang belum menunjukkan seksualitas. Ferryal mengatakan, paedofilia adalah suatu kelainan seksual (dan kejiwaan) pada seseorang yang punya ketertarikan kepada anak di bawah umur. Kata paedofilia ini berasal dari istilah Yunani yaitu paidophilia yang berarti pais (anak-anak) dan philia (cinta, persahabatan).

Yang lagi online

Anda Pengunjung ke:

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini88
mod_vvisit_counterKemarin138
mod_vvisit_counterMinggu ini88
mod_vvisit_counterBulan ini779
mod_vvisit_counterTotal72803

Jejak Pendapat

Menurut Anda artikel jenis apa yang harus ditingkatkan..?
 


Kirim Komentar/Pesan

AJAX Contact Form

 

 

Who's Offline

We have 593 member offline
smakmoer adek_08 aki soek_rhie andie vinnie maharani paulus_dillon marsya viora wily rozi eri hendra dewiku lina Agus heru noevan LENY sasa ani rahayu_novita febri_saputra allankhasogi lanni Ryo fitone nando candra dipo mail van FRENGKI Unitio Chandra Asnanda mirna DINNA riche imel yuni atma dona wawan silvia poels shaiful charlie vivi SANTI desi adhie SYAFRIYANTO ariza antoni soep 2073073 arie elsi erirahma val_i candra gunawan surya nindy armayulianti r.daeng arif lopez boss79 anto704 almust verdie henny bos3ko aan idar alya Ilham MiMi matiew kori fitri muhartono cecep83 mojo sillyboy tri_xzx junai diana okahontas a.riyaldi patasac kyuciki_byakuya yunee waluyo Erna ira hasbx yetti masnananks TETI mfaizraihan Vitria_Gusni nella_novita zhar l4g1b3t3 Anto_sug garenk02 jabreque Asyifa eka okta arifwahyutoro hensatriani bu pun su aan82 oti Rna rioe arriose scient yadie damararya scarlet ortiz theredlinez ariesmada uchien Rockafella Tommy supriamin bebey ris bintang diah haris munandar Deckmit wibowo Rea kangwisnu ibnusyam gusrak Amir hu543in dhieatika wak sup abil ade luikman pandialang nina avicena rinofreak gabriel aja elsa andrie_cr7 gilang ikmal hendragtoloh aifit mantrisunat hudikurniawanto kamalkatjo Gegana arwend saintnet najzura noey elia aatmadja reni Dirty JUANDA Novhya NDRO krist annisa_89 ari IRMA_WATI hardi_tm titho barongsay maulboriq febriboyz Indry reynhard richa.aurora insanmacho Sichi ulie raisa fera jamila mahadewi 2083097 ijun arf FITRAH michael kholiq cahil ie_ta kekekwalang ried trisna Sany eva pongel Razia Tri Purwono JHON oscar onebatosai elharawy hamsunah adhykabayu lita aza hasnah lenisukma guntoro denias hanifa fitriani setya ningsih hartadhi d1ssa robinhood Eko Ozy lanti yona noer aderia hanna rotua TRI MULATO yuni cute nistria_nirianti wisman iwan dedysaputra ecka rochaksiadi lenisyasmira primadona lisa_diana rizalzulmi nicky arsa adi antoni wulandari edy leoni tri astria tri alluph ROBY fadilah mustika anri MangTang khairun JUIANA yagyu72 GHITA ITA CUTE hndra Firmanto bobby hartono nickesmv ratna JULIANA fahrulli herli reski chrizzzz star86 bibot jhon marsius fiyan dika Siti adil mizatul athan debi Ibah aleczand dsnd fitrie88 junaidi akbid KhemasSlamet ina dravajik ima rokiah susi vieta leonie nidiaekadewi adink hazairin Ricky Ketty Syahputra boy yan Debby lisnawati anangdr cipto dani avan yose rozali anez Delly ferry dodol ervina elwani zaki Deddy yd_lavendra ismail nur_cholis Waziah JURAIDA Mulia Cyber rio boy_yat aerodive dhodho yayan MEDYA jhonri Shandy henrytedi putra suparbak M.Rizal didi_s NILA adiwibowoyudopranoto salmi anda Lya tya_chemoet youhilman ita fatkoer salim87 lira MERSI dewi NINDI juliandi Maya Sari mardiana sitorus nanda irawan zailani amik alterman nickb choky170 ruell wahjoew josi EKA DEWI suherianto akhy intangallery novia dekaderiz andrevai momo shzm andi irwandi Warneri liyre putri yudi indra irawan prasetya james hendra26 oktaf desi febrianti united7 yuyun imanpro bobby sopingi TAMI batoosay samamin emanizer herlambang chuya fauzani mujiana stif satudua aryasw09 massawi kerta45 hendri iwan_puterabatam mr_sunnyday robby_ya satrio07 clairdechugi keren Yolan hermiza dsukarsa ana ramayanti Nanda ihwan_ herysqoe niel4 wiwiet hendra2684 rieni vanz.mohek johannasirin jatiardias komeng ijal2121 athutz abdulhamid543@gmail.com arif_bp040 sidoen massolo linda benny ashary sugeng Haekal Rika adri Icha Rico dede dedy reny masdewi Azmi dme_aris L2la maulina riantika liza umu FAJAR HADIANTO apriani.dona jeck firdaus yani ridho kurniawan Ius Ayu RIA elvi oktaviani Pratama city Putri Damayanti iand Nurul Wanda PUTRI ANDASARI RIKA RIANTI chichi Yesica juwita via dena Dawolo Nia Vie_nda Mita yaw byuaja amoy sani win mustafa mon ijus ismailcs icas Guntur dandan ida Permana wahyue Maz Jaka Tya devi aiey anton AJI ijal Sukini delimar rini_amik novi nita Wisnu nur syafri moena beti haney vixion_88@ymail.com Esy Prawaty Sitepu nurvitasari itok edo yuliana may azizon pebri Hartati Hadhie Rahmadhani siti fevinda KHAIRANI asma dewi ega Asmi tetehulan daniel wiwi Ek@ $ NATAWIJAYA linia Hamidah Evi RIKKI rahim rean saroni dedye beni ribka fitriani_fifn parman IIM IRMA widia yanti sugihartini GULI khaya RAM agus_IIA melyana amel EVA PITRIANI leni RICE rahel winarti Nia paramitha 2093083 auniest Karolina nainggolan ajay ELA rizal fau ika dewie David Chandra irawan akuntasi lama suriani ferrycupu aliev fadly depanke sai blue snow8721 megawulan_sari@yahoo.com rendra Unlimited haryadi mukhlis iqbal_473 sularno qyend vicktor6 kalpataru herianto kahfi elman muttaqin monggursilalahi

Kunjungan Anggota

muttaqin - 27.10.11 jam03:00 
elman - 26.10.11 jam10:51 
kahfi - 28.03.11 jam09:28 
herianto - 03.03.11 jam22:20 
haryadi - 11.02.11 jam08:54 
vicktor6 - 20.01.11 jam11:30 
qyend - 27.12.10 jam14:03 
sularno - 08.11.10 jam22:18 
iqbal_473 - 03.11.10 jam12:16 
rendra - 11.10.10 jam22:07 

Chat Roulette Network - Get your own chat and join our network in seconds for FREE!