| Tulisan III. Perkembangan Teori Manajemen |
|
|
|
| Ditulis Oleh: Administrator | |
| Friday, 02 January 2009 | |
|
Dalam pembahasan
perkembangan teori manajemen mengenai sasaran, perlu diketahui terlebih dahulu
proses perkembangan teori-teori dan prinsip-prinsip manajemen yang akan memberi
landasan kuat bagi pemahaman perkembangan selanjutnya. Dalam bab ini ada tiga aliran
pemikiran manajemen yang ada : aliran klasik
(yang akan dibagi menjadi dua aliran, manajemen
ilmiah dan teori organisasi klasik),
aliran hubungan manusiawi (sering
disebut aliran neoklasik), dan aliran manajemen
modern. Ada juga dua pendekatan manajemen yang
berkembang akhir-akhir ini yaitu: Pendekatan
sistem dan pendekatan kontingen
(contingency approach).
Ada dua tokoh
manajemen, yang mengawali munculnya manajemen klasik yang akan dibahas disini,
yaitu Robert Owen dan Charles Babbage. Robert Owen (1771 – 1858). Pada permulaan tahun 1800 an
Robert Owen, seorang manajer beberapa pabrik pemintalan kapas di New Lanark
Scotlandia, menekankan pentingnya unsur manusia dalam produksi. Dia membuat
perbaikan-perbaikan dalam kondisi kerja, seperti pengurangan hari kerja
standar, pembatasan anak-anak dibawah umur yang bekerja, membangun perumahan
yang lebih baik bagi karyawan dan mengoperasikan toko perusahaan yang menjual
barang-barang dengan murah. Owen mengembangkan sejumlah prosedur kerja yang
juga memungkinkan peningkatan produktivitas. Charles Babbage (1792 – 1871). Seorang professor matematika dari inggris, mencurahkan banyak waktunya
untuk membuat operasi-operasi pabrik menjadi lebih efisien. Dia percaya bahwa
aplikasi prinsip-prinsip ilmiah pada proses kerja akan menaikkan produktivitas
dan menurunkan biaya. Babbage menciptakan alat penghitung (calculator) mekanis
pertama, mengembangkan program-program permainan bagi komputer, menganjurkan
kerjasama yang saling menguntungkan antara kepentingan karyawan dan pemilik
pabrik, serta merencanakan skema pembagian keuntungan. MANAJEMEN ILMIAH Manajemen ilmiah mula-mula dikembangkan oleh Frederick
W. Taylor sekitar tahun 1900-an. Taylor telah memberikan
prinsip-prinsip dasar (filsafat) penerapan pendekatan ilmiah pada manajemen,
dan mengembangkan sejumlah teknik-tekniknya untuk mencapai efisiensi. Empat prinsip dasar tersebut adalah : 1. Pengembangan metoda-metoda ilmiah
dalam manajemen, agar sebagai contoh, metoda yang paling baik untuk pelaksanaan
setiap pekerjaan dapat ditentukan. 2. Seleksi ilmiah untuk karyawan,
agar setiap karyawan dapat diberikan tanggung jawab atas sesuatu tugas sesuai
dengan kemampuannya. 3. Pendidikan dan Pengembangan
ilmiah para karyawan. 4. Kerjasama yang baik antara
manajemen dan tenaga kerja. Aliran manajemen ilmiah (scientific
management) juga ditandai kontribusi-kontribusi dari beberapa tokoh yang
lain seperti yang akan diuraikan dibawah ini: Frank dan Lilian Gilberth (1868 – 1924 dan 1878 -1972). Frank gilberth seorang pelopor pengembangan studi gerak dan waktu,
menciptakan berbagai teknik manajemen yang diilhami Taylor. Dia sangat tertarik terhadap masalah efisiensi, terutama untuk menemukan
“cara terbaik pengerjaan suatu tugas”. Lilian Gilbert Dia lebih tertarik pada aspek-aspek manusia dalam kerja, seperti seleksi,
penempatan dan latihan personalia. Henry L. Gantt (1861 – 1919) Mengemukakan gagasan-gagasan (1) kerjasama yang saling menguntungkan antara
tenaga kerja dan manajemen, (2) seleksi ilmiah tenaga kerja, (3) sistem
insentif (bonus) untuk merangsang produktivitas, dan (4) penggunaan
instruksi-instruksi kerja yang terperinci. Namun kontribusinya yang terbesar
adalah penggunaan metoda grafik yang dikenal sebagai ”Bagan Gantt” (Gantt
Chart), untuk perencanaan, koordinasi, dan pengawasan produksi. Harrington Emerson (1853 – 1937). Emerson mengemukakan 12 prinsip-prinsip efisiensi yaitu : 1. Tujuan-tujuan dirumuskan dengan
jelas 2. Kegiatan yang dilakukan masuk
akal 3. Adanya staf yang cakap 4. Disiplin 5. Balas jasa yang adil 6. Laporan-laporan yang terpercaya,
segera, dan akurat. 7. Pemberian Perintah 8. Adanya standar-standar dan
skedul-skedul metoda dan waktu setiap kegiatan 9. Kondisi yang distandardisasi 10. Instruksi-instruksi praktis tertulis yang standar 11. balas jasa efisiensi Sumbangan dan
keterbatasan Manajemen Ilmiah Manajemen ilmiah telah banyak diterapkan pada bermacam-macam kegiatan
organisasi, terutama dalam usaha peningkatan produktivitas. Teknik-teknik efisiensi manajemen ilmiah
telah menyebabkan kegiatan dapat dilaksanakan lebih efisien. Gagasan seleksi dan pengembangan ilmiah para karyawan menimbulkan kesadaran akan pentingnya kemampuan dan
latihan untuk meningkatkan efektivitas karyawan. Manajemen ilmiah tidak hanya
mengembangkan pendekatan rasional untuk pemecahan masalah-masalah organisasi
tetapi juga meletakkan dasar profesionalisme manajemen. TEORI ORGANISASI
KLASIK Henri Fayol (1841 – 1925) Fayol mengemukakan teori dan teknik-teknik administrasi sebagai pedoman
bagi pengelolaan organisasi-organisasi yang kompleks. James D. Mooney Mooney mengkategorikan prinsip-prinsip dasar manajemen tertentu. Dia
mendefinisikan organisasi sebagai sekelompok, dua atau lebih, orang yang
bergabung untuk tujuan tertentu. Mary Parker Follet (1868 -1933) Follet dan Barnard bertindak sebagai “jembatan” antara teori klasik dan
hubungan manusiawi, karena pemikiran mereka berdasarkan kerangka klasik, tetapi
memperkenalkan beberapa unsur-unsur baru tentang aspek-aspek hubungan
manusiawi. Chaster I. Barnard (1886 – 1961) Dia memandang organisasi sebagai system kegiatan yang diarahkan pada
tujuan. Menurutnya lagi fungsi-fungsi utama manajemen adalah perumusan tujuan
dn pengadaan sumberdaya-sumberdaya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. ALIRAN HUBUNGAN
MANUSIAWI Aliran hubungan manusiawi
(perilaku manusia atau neoklasik) muncul karena ketidak puasan bahwa yang
dikemukakan pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi
dan keharmonisan kerja. Sehingga “sisi prilaku manusia” dalam organisasi
menjadi penting. Dibawah ini ada beberapa ahli yang mencoba melengkapi teori organisasi
klasik dengan pandangan sosiologi dan psikologi. Hugo Munsterbeg (1863 – 1916) Dia banyak menguraikan penerapan peralatan-peralatan psikologi untuk
membantu pencapaian tujuan produktifitas. Yaitu (1) penemuan best possible person, (2) penciptaan best possible work, (3) penggunaan best possible effect untuk memotivasi
karyawan. Elton Mayo (1880 – 1949) Mayo menemukan penemuan penting bahwa perhatian khusus (seperti perasaan
terpilih menjadi partisipan dalam studi yang dilakukan manajemen puncak) sangat
memepengaruhi usaha-usaha para karyawan. Karena makhluk sosial dimotivasi oleh
kebutuhan sosial, keinginan akan hubungan timbal balik dalam pekerjaan, dan
lebih respontif terhadap dorongan kelompok kerja. Sumbangan dan
Keterbatasan Pendekatan Hubungan Manusiawi Penekanan kebutuhan-kebutuhan
sosial dalam aliran hubungan manusiawi melengkapi pendekatan klasik, sebagai
usaha untuk meningkatkan produktivitas. Aliran manusiawi mengutarakan bahwa
perhatian terhadap para karyawan akan memberikan keuntungan. Akan tetapi konsep makhluk
sosial tidak menggambarkan secara lengkap individu-individu dalam tempatnya
bekerja. Perbaikan-perbaikan kondisi kerja dan kepuasan karyawan tidak
menghasilkan peningkatan produktivitas yang dramatik seperti yang diharapkan. Lingkungan
sosial di tempat kerja hanya salah satu dari beberapa faktor yang saling
berinteraksi yang mempengaruhi produktivitas dan hal-hal ini marupakan sebagian
keterbatasan teori hubungan manusiawi. ALIRAN MANAJEMEN Manajemen modern berkembang
melalui dua jalur yang berbeda. Pertama dari aliran hubungan manusiawi yang
dikenal sebagai perilaku organisasi, dan
aliran kuantitatif (operation
research dan management science atau manajemen operasi). 1. PERILAKU
ORGANISASI perkembangan aliran perilaku
organisasi ditandai dengan pandangan dan pendapat baru tentang perilaku manusia
dan sistem sosial. Tokoh-tokoh aliran ini antara lain : 1. Abraham Maslow yang mengemukakan
adanya “hirarki kebutuhan” dalam penjelasannya tentang perilaku manusia dan
dinamika proses motivasi. 2. Douglas McGregor dengan teori X dan Y nya. 3. Frederick Herzberg yang menguraikan
teori motivasi higienis atau teori dua factor. 4. Robert Blake dan Jane Mouton yang membahas lima
gaya kepemimpinan dengan kisi-kisi manajerial (manajerial grid). 5. Rensis Likert yang telah mengidentifikasi dan
melakukan penelitiannya secara ekstensif mengenai empat system manajemen. 6. Fred Fiedler yang menyarankan pendekatan
contingency pada studi kepemimpinan. 7. Chris Argyris yang memandang organisasi
sebagai sisstem sosial atau system antar hubungan budaya. Edgar Schein yang
banyak meneliti dinamika kelompok dalam organisasi. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|
| Modul Kuliah |
| Akuntansi |
| Latihan Dasar Akuntansi |
| Manajemen |
| Ekonomi |
| Forum Diskusi |
| Belajar Berbisnis |