| Bekal Hari Esok |
|
|
|
| Ditulis Oleh: M. Abdullah | |
| Wednesday, 17 December 2008 | |
Siang itu, ahad ba’da dzuhur.
Di serambi lantai dua sebuah kampus yang terletak di kawasan wilayah Tangerang,
aku bercakap dengan seorang sahabat. Dalam belaian sepoi-sepoi hembusan angin
yang menyapa, kami saling bertanya kabar “gimana nih kabarnya, gimana orang
tua, gimana kuliahnya, dll”, dan semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang aneh, tidak ada
yang tidak sehat, alhamdulillah. Semua berjalan lancar seperti air yang
mengalir tanpa sumbatan.Sesaat kemudian, kutundukkan kepalaku dan jatuhlah pandanganku di lantai
satu kampus tersebut. Di sana pandanganku menyentuh pada seorang lelaki yang
sudah agak tua, namun belum terlalu tua, toh rambut putihnya baru satu dua
helai saja. Dia datang dengan begitu sehat tanpa menampakkan sebuah cacat.
Dengan motor bebeknya yang sudah agak lusuh termakan usia dan debu jalanan, dia
berhenti di depan kampus dan menunggu. Menunggu istrinya yang masih kuliah
jurusan pendidikan di kampus itu. Baik istrinya maupun lelaki itu, tak lain
adalah orang tua dari sahabatku sendiri yang saat itu sedang bercakap denganku. “Masih mesra ajah!”. Celetukku. “Iya, alhamdulillah”. Sahabatku merespon dengan senyum kecil. Keesokan harinya, ketika empuknya ranjang pegas, serta lembutnya
bantal dan guling mencuri alam sadarku ba’da sholat dhuha, handphone
CDMA tua yang terletak di sisi kepala menjemputku kembali ke alam sadar. “1 Message Received”
tertulis di layar handphone. Kupun langsung membuka kotak inbox pada menu Message
dan di sana tertulis sebuah nama, “Dina”. “Hah, Dina?!”, “Ada apa?!”.
Rasa penasaranpun menyusup dalam otak, karena Dina adalah seorang perempuan
yang akan berfikir seribu kali untuk menel-phone atau meng-SMS
teman laki-lakinya, apalagi pagi-pagi begini. Kecuali karena satu hal…”URGENT!”. Pikirankupun ternyata memang tidak salah. Di balik nama tersebut tersurat
sebuah kabar “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Bapakku sudah tidak
ada semalam”. Aku seperti tidak percaya. “Nggak ada?! Maksudnya nggak ada
gimana?! Gimana mungkin?! Bercanda kali nih!”. Rentetan Tanya yang mengisyaratkan
rasa penasaran dan ketidak percayaanpun menghambur dalam kepalaku. “Bagaimana
mungkin? Kemarin siang beliau kan masih sehat, segar bugar ketika menjemput
isterinya?!”. Untuk memuaskan rasa penasaran itu, akupun langsung menghubungi
dia dengan sisa pulsa yang sudah hampir sekarat. Dari handphone tua
itu terdengar suara sayup-sayup, naik turun, tersendat-sendat menjelaskan. “Iya, bener. Bapak udah nggak ada. Semalem sekitar jam tigaan. Selama ini
memang bapak punya penyakit darah tinggi. Tapi anehnya, belakangan ii beliau
terlihat sehat-sehat saja, nggak ada keluhan, nggak ada gejala-gejala kambuh,
dan emang udah lama nggak kambuh. Padahal…semalam beliau masih mengikuti sholat
maghrib dan isya berjamaah di Masjid, karena memang beliau tidak sedang sakit… …percakapan terhenti sejenak… …semalam, ibu nggak tidur sama bapak. Ibu tidur sama adik, karena adik
sedang sakit. Sekitar jam tiga pagi, terdengar suara bapak mendengkur keras
sekali. Ibu pikir, itu Cuma suara dengkuran biasa. Namun, ketika ibu hendak
membangunkan beliau…beliau sudah ngaak ada…” “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”. Adakah diantara kita yang mengetahui dengan pasti tentang apa yang akan terjadi
hari esok, tentang satu jam kedepan, tentang satu menit kedepan, atau tentang
satu detik kedepan? Jawabannya adalah “Tidak ada”. Namun berapa banyak diantara kita yang telah
dengan kerja keras, susah payah, membanting tulang, memeras keringat, kaki buat
kepala dan kepala buat kaki untuk mempersiapkan masa depan. Padahal kita nggak
pernah tau apakah satu tahun kedepan kita masih akan hidup atau tidak? Untuk
satu menit kedepanpun kita tak pernah tahu tentang nyawa kita, tapi kita sudah
hampir menghabiskan seluruh hari-hari kita hanya untuk mencari bekal hari esok
atau beberapa tahun yang akan datang di dunia yang fana. Kita memang tidak pernah tahu, namun kitapun memang tidak salah untuk
berjuang mempersiapkan bekal hari esok didunia ini. Karena Rasulullah SAW-pun
telah bersabda : “Bekerjalah untuk duniamu sebanyak-banyaknya, seolah-olah engkau akan
hidup untuk selama-lamanya” (HR. Ahmad waTurmudzi). Selain itu, bekerja adalah salah satu media yang dapat menimbulkan rasa
syukur, sebagaimana firman Allah yang memerintahkan keluarga Daud untuk bekerja
dalam QS. Saba (34): 13, yang berbunyi: “…Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah)…” Yang salah adalah, banyak diantara kita yang mengejar bekal untuk hari esok
di dunia hingga terlupa atau bahkan melupakan untuk mencari bekal hari esok
yang kekal. Kita mengejar hari esok yang belum pasti datangnya, yang belum
tentu usia kita akan sampai kepadanya, yang bila sampaipun…mungkin hanya untuk
hidup beberapa tahun, beberapa bulan, beberapa hari, beberapa jam, beberapa
menit, ataupun beberapa detik saja. Namun, kadang kita lupa untuk mengejar
bekal akhirat, hari esok yang datangnya sudah pasti, yang setiap orang pasti
akan menemui suka ataupun tidak suka. Mungkin, melalui perhitungan
berikut, kita dapat merenungkan perbandingan bekal dan usaha kita untuk hari
esok yang cepat atau lambat pasti akan berakhir dengan bekal hari esok yang
abadi dan cepat atau lambat pasti akan kita temui. Dalam satu hari terdapat
satu jam, dan dalamsatu minggu terdapat 7 hari . 7 hari x 24 jam = 168 jam
dalam satu minggu. Dalam 24 jam tersebut, berapa
jam yang sudah kita gunakan untuk bekerja mempersiapkan hari esok di dunia, dan
berapa menit yang sudah kita berikan untuk benar-benar dalam khusyuk
mempersiapkan hari esok yang kekal adanya. Dalam 168 jam (satu minggu),
berapa hari dan berapa jam yang telah kita gunakan untuk mengejar dunia, dan
berapa jam-kah yang sudah kita programkan dan kita gunakan untuk mengejar
akhirat. “Hidup hanya sementara, nanti, esok atau lusa kita psti akan
meninggalkannya. Dan akhirat adalah kekal selamanya, yang nanti, esok ataupun
lusa kita pasti akan menemuinya. apakah kita akan bahagia atau akan menderita
pada masa yang tidak akan pernah ada akhirnya? Apa yang sudah kita siapkan
untuk masa yang tidak akan pernah ada hentinya, yang sudah pasti akan menjemput
kita?” wallahua'lam bishshowab |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|
| Modul Kuliah |
| Akuntansi |
| Latihan Dasar Akuntansi |
| Manajemen |
| Ekonomi |
| Forum Diskusi |
| Belajar Berbisnis |