Suatu ketika, mungkin kita pernah berfikir, betapa keras dan beratnya
perjalanan hidup ini. Saat hati kita seolah tak mampu lagi menahan beban masalah. Saat kita
merasa lunglai, lemah dan berat melangkahkan kaki, merasa tak kuat dan bingung
menghadapi berbagai suasana hidup yang sulit dan berat. Ketika kita tak lagi mampu berdiri
menopang beban berat yang harus dipikul. Tidak. Itu bukan tanda kelemahan yang patut disesali. Sebab manusia memang
diciptakan dalam keadaan serba lemah. Tapi Allah berjanji tak akan menimpakan
beban masalah kepada seseorang, diatas batas kemampuan orang tersebut untuk
memikulnya
.
Tingkat cobaan iman itu tak ubahnya dengan anak tangga yang bertingkat-tingkat.
Tiap satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah suatu pukulan hebat mengenai
tubuh orang yang mendaki. Kalau tangan kuat bergantung, kalau kaki kuat
berpijak, dan kalau akal pikiran tetap waspada, pukulan itu malah akan
mendorong menaikkannya ke atas yang lebih tinggi. Tapi kalau tangan lemah, kaki
tidak kuat, akal hilang, pikiran kusut, maka pukulan itu kan dapat merobohkan.
Yang paling disayangkan , kalau robohnya todak hanya satu-dua buah anak tangga
ke bawah, tapi jatuh ke anak demi anak tangga di bawah yang sangat banyak. Bahkan
karena lemahnya seseorang sulit bangkit lagi.
Saudaraku, coba renungkan….
Memang ada orang pintar yang hidupnya miskin, orang bodoh yang hidupnya kaya
raya, pembela kebenaran hidup terisolir, orang kafir mrmiliki harta benda,
orang islam jadi penyapu jalanan.
Tapi, renungkan lagi saudaraku…
Nabi ya’qub harus kehilangan anaknya Yusuf yang sangat dicintainya. Bertahun
kemudian hilang pula adiknya Bunyamin. Ketika anak yang kedua itu hilang,
karena ditangkap oleh wakil raja Mesir yang sebenarnya adalah Yusuf sendiri,
Ya’qub tetap tidak berputus asa berharap pada Allah. Dia hanya menerima
kejadian itu dengan harapan yang lebih besar,
“semoga Allah mengembalikan anak2ku itu semuanya.” (Yusuf;83)
“ Sabarlah yang lebih baik, dan kepada Allah lah tempat meminta tolong.” (Yusuf;18)
lihat juga nabi Ibrahim. Cobaan apa yang melebihi cobaan yang menimpa kekasih
Allah itu?imannya diuji dengan ujian yang beratnya tidak ada tandingnya. Diperintahkan
untuk menyembelih anak kandung sendiri.
Mana yang lebih besar dari kita dengan penderitaan nabi Adam?. Bersenang2 dalam
surga dengan isterinya, lalu diperintahkan untuk keluar. Isa Al-masih pun
seperti itu. RAsulullah Muhammad lebih-lebih lagi.
Pernahkan mereka mengeluh? Tidak. Mereka yakin bahwa iman kepada Allah memang
menghendaki perjuangan, pengorbanan sekaligus keteguhan hati. Mereka tidak
terlalu menuntut kemenangan lahir, karena memang mereka selalu menang di alam
bathin. Mereka memikul beban berat, menjadi Rasul Allah, memikul perintah
Allah, dank arena itulah mereka tempuh kesulitan. Pertama, untuk membuktikan
kecintaannya pada Allah, dan kedua, untuk menggembleng batinnya agar menjadi
semakin kokoh.
Saudaraku,
Disitulah tersimpan kekuatan iman. Bukan pada sujud dan ruku’. Sujud dan ruku’ hanya
laksana dahan yang berasal dari batang keimanan. Dahan akan kurus, daun akan
kering, bila batang tak memiliki akar tang kuat, kokoh dan tak mudah goyah
diterpa angina dan badai. Dahan dan ranting sangat tergantung pada suplai
makanan dari batang dan akar. Batang dan akar itulah substansi iman.
Saudaraku, sekali lagi…
Jangan pernah kalah oleh beratnya cobaan hidup. Tidak semua permintaan kita
harus dikabulkan. Karena Allah lah yang lebih mengenal batin kita daripada kita
sendiri. Teka-teki hidup ini sangat banyak. Jangan menyangka Allah lemah
menolong hambaNya.
Saudaraku,
Lalu kapan dan bagaimana pertolongan dan bantuan Allah itu? Ibnu’Athaillah
memberi pengarahan yang sangat bagus dalam hal ini.
“Tampilkan dengan sesungguhnya sifat kekuranganmu niscaya Allah menolongmu
dengan sifat kesempurnaanNya. Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, niscaya
Ia menolongmu dengan kemuliaanNya. Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu,
niscaya Ia menolongmu dengan kemuliaanNya. Bersungguh-sungguhlan dengan ketidak
berdayaanmu, niscaya ia menolongmu dengan kekuasaanNya. Bersungguh-sungguhlah
dengn kelemahanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kekuatanNya.”
Pertolongan, dukungan, kemenangan Allah itu pasti. “Adalah hak bagi Kami
menolong orang2 beriman.” (Ar Rum;47). Sedetik pun Allah tak pernah meninggalkan
hambaNya yang beriman. Dan jika Ia berkehendak, tak ada yang dapat menghalangi
turunnya pertolongan dan bantuanNya. Masalahnya hanya ada pada proses turunnya
pertolongan dan bantuan itu. Karenanya sekali lagi, jangan pernah kalah oleh
cobaan.
Terakhir Diperbaharui ( Wednesday, 10 December 2008 )
Kalau anda menjawab panggilan telepon di ponsel anda saat ada badai dan petir, sebaiknya anda jangan lama-lama menggunakannya. Para dokter di Inggris memperingatkan bahaya dari petir sewaktu telepon genggam digunakan di luar gedung saat terjadi badai. Pada
Jurnal Kedokteran Inggris, mereka mengangkat kasus di mana seorang
remaja terluka berat setelah tersambar petir ketika sedang berbicara di
ponselnya.